2nd HMM G20, Upaya Hasilkan Kesepakatan Penguatan Arsitektur Kesehatan Global

406
Bilateral Meeting Menteri Kesehatan RI dengan Delegasi Jerman (26/10). (Sumber Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes)

Bali– Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menggelar pertemuan Deputi Menteri Kesehatan Negara Anggota G20, Rabu (26/10) di Bali. Kegiatan ini mengawali Pertemuan Kedua Tingkat Menteri Bidang Kesehatan (The 2nd Health Ministers Meeting) G20 yang dihelat selama dua hari (27-28 Oktober) di lokasi yang sama. Pertemuan ini dibuka Sekretaris Jenderal Kemenkes Kunta Wibawa Nugraha.

Pertemuan Kedua Tingkat Menteri Bidang Kesehatan G20 adalah pertemuan terakhir dari rangkaian Presidensi G20 Indonesia bidang kesehatan yang menargetkan kesepakatan dokumen outcome.

Juru Bicara G20 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan keseluruhan isi dalam dokumen outcome diharapkan bisa menjadi panduan dalam memperkuat arsitektur kesehatan global agar lebih siap dalam menghadapi pandemi saat ini dan di masa depan.

“Dari pertemuan kedua HMM ini, diharapkan menghasilkan keberhasilan Indonesia dan negara G20 di bidang kesehatan dalam hal penguatan arsitektur kesehatan untuk penguatan kesiapsiagaan serta respons pandemi yang lebih baik,” ujar Nadia.

Baca Juga  Aksi Penurunan Angka Kematian Ibu Dan Bayi Harus Dilakukan Secara Tajam
Sekretaris Jenderal Kemenkes Kunta Wibawa Dasa Nugraha, hadir menjadi chairperson pada sesi pertemuan 2nd Health Minister Deputy Meeting G20 di Bali, 26 Oktober 2022. (Sumber Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes)

Acara HMM Ke-2 dihadiri 190 delegasi dari negara anggota G20 dan negara maju lainnya seperti Singapura, Uni Emirates Arab, Swiss, Belanda, dan perwakilan dari beberapa negara mewakili regional seperti ASEAN, Pacific Island Forum, African Union, Caribbean Community, dan NEPAD.

Pertemuan ini juga mengundang organisasi internasional terkait seperti WHO, World Bank, GAVI, CEPI, Global Fund, OECD dan lainnya untuk memberikan masukan atau pengayaan terhadap isu prioritas G20 di bidang Kesehatan.

Pada hari ini dilakukan juga serangkaian pertemuan bilateral. Salah satunya antara Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dengan Delegasi Jerman. Pertemuan selanjutnya dilakukan Kamis (27/10) dengan beberapa delegasi negara lain.

Menteri Kesehatan negara G20 yang hadir secara khusus akan disambut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (27/10). Selanjutnya diadakan pembahasan tiga isu prioritas yakni Pembangunan Ketahanan Sistem Kesehatan Global, Harmonisasi Standar Protokol Kesehatan Global, dan Perluasan Pusat Jejaring Penelitian dan Manufaktur Global. Diharapkan Jumat (28/10) dapat disahkan outcome document berupa Aksi Menteri Kesehatan Negara G20 dalam Penguatan Arsitektur Kesehatan Global.

Baca Juga  BKPK Melaksanakan Clinical Monitoring pada Uji Klinik Vaksin Merah Putih

Adapun hal-hal substantif yang diajukan dalam outcome document tersebut meliputi :

Pertama, Penguatan dukungan atas pendirian Pendirian Financial Intermediary Fund (FIF) atau ‘Dana Perantara Keuangan’. Pada 1 Juli 2022, Dewan Direksi Bank Dunia (World Bank) menyetujui pembentukan FIF dan telah resmi beroperasi sejak pertemuan 1st FIF Governing Board, 8-9 September 2022.

Pembentukan FIF adalah salah satu terobosan bersejarah Presidensi G20 Indonesia bidang kesehatan. FIF akan bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas global untuk pencegahan, persiapan dan respon terhadap pandemi di masa yang akan datang.

Kedua, adanya mekanisme yang terstruktur untuk memobilisasi sumber daya esensial kesehatan.

Ketiga, Penguatan genomic surveillance, serta penggunaan platform kerja sama berbagi data patogen untuk kesiapsiagaan dan penanganan pandemi yang lebih baik.

Baca Juga  KEPPKN dan MTA Ikut Kawal Transformasi Kesehatan

Keempat, penguatan dukungan adanya platform bersama dalam menghubungkan berbagai sistem digital sertifikasi dokumen kesehatan, termasuk vaksin dan hasil diagnostik guna memfasilitasi pergerakan orang dan barang.

Kelima, memperluas jejaring pusat penelitian dan manufaktur global. Perluasan ini diharapkan dapat membuat negara-negara khususnya negara low middle income memilki akses yang lebih baik terhadap vaksinasi, pengobatan, dan diagnostik. (Penulis Fachrudin Ali)