Kasus Ebola di Kongo: Jauh Dari Indonesia Tapi Terasa Dekat, Bagaimana Antisipasinya?

532

Penulis: Kambang Sariadji

Sumber: https://news.un.org/en/story/2022/09/1127181

Baru ini dilaporkan kembali kasus konfirmasi Ebola di kota Beni Kongo oleh Kementerian Kesehatan Kongo tanggal 22 Agustus 2022. Kasus ini merupakan keterkaitan dengan kasus sebelumnya yang terjadi di bulan Juli 2022 di kota yang sama. Pertama kali penyakit ini ditemukan di dekat sungai Ebola pada tahun 1976 yang saat ini bernama Republik Demokratik Kongo.

Menurut World Health Organizations (WHO), kasus Ebola paling sering terjadi di negara Kongo. Walau ada juga temuan kasus di beberapa negara lain seperti Guinea, Mali, Italia, Nigeria, Senegal, Spanyol, Inggris, Amerika Serikat. Kasus wabah di Kongo memang jauh dari Indonesia. Terkesan tidak mungkin sampai ke Indonesia, namun di era mobilisasi yang tinggi, tidak menutup kemungkinan bisa sampai ke Indonesia.   

Sekilas Tentang Penyakit Ebola (Ebola Virus Disease)

Penyakit virus EBOLA adalah penyakit yang mematikan yang sebelumnya dikenal sebagai demam berdarah Ebola yang berpotensi wabah dan seringkali fatal pada manusia jika tidak segera diobati. Sebagian besar kasus ini terjadi di benua Afrika. Virus ini lebih sering menyerang manusia dan primata (seperti monyet, gorila, dan simpanse).

Perkiraan penularan virus Ebola terjadi dari kelelawar buah dari keluarga Pteropodidae dan inang alami virus Ebola. Ebola masuk ke populasi manusia melalui kontak dekat dengan darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lainnya dari hewan yang terinfeksi seperti kelelawar buah, simpanse, gorila, monyet, yang ditemukan sakit atau mati atau di hutan. Virus Ebola kemudian menyebar melalui penularan dari manusia ke manusia melalui kontak langsung (melalui kulit yang rusak atau selaput lendir)

Baca Juga  Bugar Dengan Jamu

Jenis virus spesies Ebola yang menyebabkan kematian tinggi adalah spesies Zaire ebolavirus diantara spesies lainnya yang telah diidentifikasi seperti : Zaire, Bundibugyo, Sudan, Taï Forest, Reston dan Bombali. Virus dapat ditularkan ke manusia melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh pasien EVD, jarum suntik yang telah terkontaminasi virus atau kelelawar buah atau primata yang terinfeksi.

Infeksi virus Ebola tidak menyebar melalui air yang terkontaminasi, makanan, atau gigitan nyamuk dan serangga lainnya. Seseorang yang terinfeksi EVD mempunyai gejala mirip demam berdarah seperti demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan dan diikuti muntah, diare, ruam, gangguan fungsi hati dan perdarahan internal maupun eksternal (misalnya keluarnya cairan dari gusi, atau darah dalam tinja).

Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan mengurangi risiko kontak langsung atau dengan orang yang bergejala Ebola terutama dengan cairan tubuh penderita Ebola. Khusus petugas Kesehatan dan laboratorium memperhatikan kebersihan tangan, badan, gunakan selalu Alat Pelindung Diri (APD) sesuai penilaian risiko. 

Baca Juga  Teknologi Telemedicine Mendekatkan Yang Jauh

Antisipasi Ebola di Indonesia

Di Indonesia belum ada yang terkonfirmasi positif kasus Ebola. Pernah ada sampel yang diduga penyakit Ebola di bulan Oktober 2014 yang berasal dari 2 warga negara Indonesia dan 1 warga negara asing. Namun hasil pemeriksaan Laboratorium Badan Litbangkes menunjukkan hasil negatif.

Perlu diingat kemungkinan risiko masuknya penyakit melalui pelaku perjalanan dari dan ke negara terjangkit, atau WNI yang sedang berada di negara terjangkit. Termasuk jamaah haji atau umroh yang kontak dengan warga negara dari negara terjangkit serta keterlibatan pasukan Garuda Indonesia yang selalu hadir di negara Kongo dalam upaya misi kemanusiaan dan perdamaian. Hal ini menyebabkan upaya kesiapsiagaan terhadap penyakit Ebola menjadi hal penting.

Kebijakan yang diambil sebagai upaya kesiapsiagaan menghadapinya adalah melalui pencegahan dan pengendalian mandiri perseorangan dengan  meningkatkan kesadaran akan faktor risiko infeksi Ebola yang dapat dilakukan individu (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat termasuk vaksinasi). Ini adalah cara yang efektif untuk mengurangi penularan pada manusia.

Antisipasi dengan melakukan komunikasi risiko dengan tujuan meminimalkan  kecemasan masyarakat akan penyakit Ebola melalui kanal komunikasi dan melibatkan pemangku kepentingan pusat dan daerah

Baca Juga  Indonesia Bangkit Lawan Pandemi dengan Vaksin Covid-19 Merah Putih

Menyiagakan Tim Gerak Cepat (TGC) di pintu-pintu masuk negara Indonesia serta tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota. Tim TGC ini terdiri dari petugas surveilans, klinisi, ahli/analis laboratorium, sanitarian, petugas pengendali infeksi dan petugas dari unit terkait lainnya

Peningkatan Upaya Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon di semua wilayah Indonesia. Kewaspadaan yang dimaksud adalah terhadap orang yang memiliki riwayat perjalanan dari negara/daerah terjangkit dan atau memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi positif Ebola. Upaya ini telah ada dan di implementasikan di Indonesia sesuai International Health Regulation tahun 2005.

Mengingat penyakit Ebola sangat menular melalu cairan tubuh penderita, maka perlu rujukan khusus penyakit Ebola seperti rumah sakit dan laboratorium khusus terpisah, serta Laboratorium Rujukan Pemeriksaan Virus Ebola dengan level BSL 3

Kesiapsiagaan menghadapi penyakit virus Ebola memerlukan pusat komando operasional yang melibatkan lintas kementerian/unit/lembaga dengan konsep one health. Dalam lingkup Kementerian Kesehatan, fungsi ini dijalankan oleh Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) melalui Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) Kementerian Kesehatan RI (Editor Fachrudin Ali)