Penguatan Sistem Kesehatan Global untuk Persiapan yang Lebih Baik Menghadapi Pandemi

2100

Indonesia kembali mengadakan pertemuan dengan para anggota G20 Dalam rangka persiapan perhelatan G20 Summit yang akan dilaksanakan bulan November 2022. Pertemuan kali ini adalah pertemuan pertama tingkat Menteri Kesehatan diantara para anggota G20, sekaligus menjadi joint meeting Menteri Kesehatan dan Menteri Keuangan dari negara anggota G20 untuk membahas beberapa masalah terkait kesehatan dan pendanaan atas pandemi Covid-19. Acara dihelat tanggal 20-21 Juni 2022 di Yogyakarta.

Hadir 20 negara anggota G20 pada acara ini, namun hanya 13 negara yang dapat hadir langsung di lokasi pertemuan. Selain mengundang negara-negara anggotanya, kegiatan ini turut mengundang negara-negara di luar anggota seperti Spanyol yang telah beberapa tahun menjadi undangan khusus, serta Singapura, Uni Emirat Arab, Belanda, dan Swiss. Beberapa organisasi internasional juga turut diundang dalam acara ini seperti WHO, Worldbank, Globalfund, dan GISAID.

Baca Juga  Perokok Dewasa di Indonesia Meningkat Dalam Sepuluh Tahun Terakhir

Tema yang diangkat adalah Penguatan Arsitektur Kesehatan Global dengan Menciptakan Ketahanan Kesehatan Global dan Pengakuan Bersama atas Pendirian Pusat Riset Produksi dan Mobilitas Internasional.MenteriKesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin memimpin langsung pertemuan ini bersama Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus sebagai Keynote Speaker.

“Tahun ini kita mendiskusikan 3 agenda yang menjadi prioritas yaitu penguatan sistem kesehatan global, harmonisasi standar protokol kesehatan global, dan perluasan penelitian global serta pendirian pusat pencegahan, persiapan, dan respon atas pandemi yang dimulai dengan teknologi vaksin mRNA,” ungkap Menkes Budi Gunadi Sadikin (20/6).

Untuk agenda penguatan sistem kesehatan global ada tiga luaran yang diharapkan yaitu pertama ketersediaan sumber dana untuk pencegahan, penyiapan dan respon atas pandemi. Dari hasil pertemuan HWG pertama telah disepakati dibentuknya Financial Intermediary Fund (FIF). Kedua adalah akses ke kegawatdaruratan medis dengan perlu dibangunnya sebuah platform koordinasi permanen agar pembiayaan tersebut digunakan secara tepat untuk upaya pencegahan, persiapan, dan respon atas pandemi yang lebih baik. Ketiga adalah membangun kerjasama global laboratorium genomic surveillance dan penguatan mekanisme berbagi data yang tepercaya.

Baca Juga  Transformasi Kesehatan Untuk Perbaikan Masalah Kesehatan di Indonesia

Untuk agenda kedua, harmonisasi standar protokol kesehatan global, luaran yang diharapkan adalah adanya pengakuan bersama atas sertifikat vaksin dan pemeriksaan yang terverifikasi di titik masuk berbagai negara. Dari hasil pertemuan HWG kedua sudah ada kemajuan penting atas pengembangan mekanisme verifikasi sertifikat vaksin digital. Dengan adanya mekanisme ini diharapkan dapat menjadi elemen penting untuk terciptanya perjalanan internasional yang aman dan terkendali.

Dari ketiga agenda tersebut, dua agenda telah dibahas pada pertemuan Health Working Group (HWG) pertama dan kedua. Agenda ketiga yaitu memperluas penelitian global dan pendirian pusat pencegahan, persiapan, dan respon atas pandemi yang dimulai dengan teknologi vaksin mRNA yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Agustus nanti. “Mari kita bekerja bersama-sama untuk menguatkan sistem ketahanan global dan memastikan kita memiliki persiapan yang lebih baik dalam menghadapi pandemi berikutnya,” pungkas Menkes Budi. (Penulis Kurniatun Karomah/Editor Fachrudin Ali).