<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Pola Resistensi Basil Tuberkulosis dan M. atipik terhadap Obat Anti Tuberkulosis pada Penderita TB</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Misnadiarly</mods:namePart><mods:namePart type="family">Misnadiarly</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Masalah tuberkulosis (Tb) merupakan masalah besar di Indonesia dengan prevalensi 0,29% dan merupakan penyebab kematian nomor 2. Masalah TB terjadi karena resistensi kuman TB yang menginfeksi serta adanya infeksi ganda M. tuberkulosis dan M. atipik (MOOT) pada seorang penderita TB.      Penelitian ini dilakukan terhadap 20 kultur dari 20 penderita TB kasus baru, kambuh/relaps, dan ulangan. Dilakukan identifikasi spesies dan uji resistensi terhadap OAT dengan metode konvesional consentrasi absolut dan 7 strain dilakukan cross check dengan metode BACTEC di NAMRU.       Hasilnya dari 20 penderita TB paru tersebut ditemukan 5 penderita M.tuberkulosis, 1 penderita M.bovis, dan 14 penderita M.atipik.      M.atipik yang berhasil diidentifikasi adalah M.kansasii (2), M.szulgai (4), M.scofulaceum (1), M.simae (1), M.chelonei (1), M.goordonae (1), dan M.marinum (1). Resistensi primer M.tuberkulosis (60-80), MDR-TB 20%, resistensi primer M.atipik (28-71%), resistensi sekunder (25-50%), MDR 0%.       Hasil uji resistensi untuk M.tuberkulosis terkecil 20% untuk INH dan 80 % untuk anti TB lainnya. Untuk M.atipik RIF/Rifampicin efektif 99%, INH 80%, dan ERY 60%. Pada kasus ulang ditemukan M.kansasii dan M.szulgai. Spesies ini juga ditemukan pada kasus relaps. Pada kedua kasus ini, ETB 100% sensitif dan RIF 75% sensitif.      Kesimpulannya, pengobatan efektif untuk kasus kambuh dan ulang kombinasi RIF-ETB baik. Lebih baik jika diberikan Moxyfloxacin. Ini perlu penelitian dengan sampel yang lebih besar. Hasil cross check yang didapatkan dalam penelitian ini sebesar 82,7%. Hasil uji resistensi tersebut dapat dianggap benar, tetapi masih perlu peningkatan dalam ketrampilan teknis uji resistensi.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">WF 140-900 Diseases of the Respiratory System</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2003</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Article</mods:genre></mods:mods>