<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Studi  Prevalens Fasciolopsiasis di Kabupaten Hulu Sungai Utara-Kalsel Tahun 2002 Dan 2003</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Rita Marleta</mods:namePart><mods:namePart type="family">Dewi</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Oerip</mods:namePart><mods:namePart type="family">Pancawati</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Anorital</mods:namePart><mods:namePart type="family">Anorital</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Fasciolopsiasis adalah penyakit kecacingan yang disebabkan oleh cacing Fasciolopsis buski.  Cacing ini merupakan salah satu parasit trematoda terbesar yang dapat menginfeksi manusia dan bermanifestasi di dalam lumen usus.  Manusia terinfeksi cacing ini dikarenakan memakan tumbuhan air yang  mentah atau yang tidak dimasak dengan baik.  Secara endemik, penyakit kecacingan ini di Indonesia hanya ditemukan di beberapa desa di kabupaten Hulu Sungai Utara dengan prevalens  antara 1,2-7,8%.  Sampai saat ini angka prevalens penyakit tidak menunjukkan kecenderungan turun, akan tetapi menunjukkan adanya penyebaran penyakit ke wilayah lainnya.        Rancang penelitian adalah cross sectional dengan mengumpulkan data parasitologis untuk mengetahui besarnya prevalens  fasciolopsiasis yang dilakukan dengan cara pemeriksaan tinja penduduk pada 7 desa di 3 kecamatan pada kabupaten Hulu Sungai Utara.  Hasil survei parasitologis yang dilaksanakan pada 7 desa penelitian (Sei Papuyu, Kalumpang Dalam, Sarang Burung, Talaga Mas, Putat Atas, Padang Bangkal dan Sapala-Bararawa)    yang mencakup 1.555 penduduk diperoleh angka prevalens sebanyak 7,8% positif fasciolopsiasis.  Anak-anak usia di bawah 10 tahun merupakan penderita fasciolopsiasis yang paling banyak yaitu 67,8% atau 5,2% dari total penduduk yang diperiksa. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu upaya surveilans untuk memantau prevalens fasciolopsiasis dengan pemeriksaan tinja dan pengobatan penderita yang difokuskan kepada anak-anak sekolah dasar.  Pelaksanaannya 2 kali dalam setahun yaitu pada pertengahan musim hujan (Februari-Maret) dan pertengahan musim kemarau (Agustus-September).</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">WC 680-950 Tropical and Parasitic Diseases</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2005</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Article</mods:genre></mods:mods>