<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Kejadian Putus Berobat Penderita Tuberkulosis Paru dengan Pendekatan DOTS</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Ainur</mods:namePart><mods:namePart type="family">Rofiq</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Telah dilakukan 2(dua) studi, yaitu studi kualitatif dan studi kasus kontrol untuk mengetahui kendala utama penderita TB putus berobat.      Studi kualitatif melalui diskusi kelompok terfokus, dilakukan di Bogor melibatkan 4 (empat) kelompok yang terdiri dari kelompok pengelola TB di Puskesmas (6 wanita dan 3 pria), kelompok keluarga penderita DO dan non-DO     (4 wanita dan 4 pria), kelompok penderita non-DO (4 wanita dan 3 pria) dan kelompok penderita DO (4 wanita dan 4 pria) disimpulkan bahwa faktor penyebab penderita gagal berobat adalah miskinnya informasi tengan pengobatan TB, kebosanan minum obat yang terlalu lama dan jumlah obat yang efektif cukup banyak, merasa sudah sehat dan adanya efek samping obat, kesulitan uang atau tidak ada yang mengantar penderita ke Puskesmas.      Faktor penunjang kelangsungan berobat adalah pengetahuan penderita mengenai bahaya penyakit TB yang gampang menular ke seisi rumah terutama pada anak, motivasi keluarga baik saran dan perilaku keluarga kepada penderita untuk menyelesaikan pengobatannya dan penjelasan dari petugas kesehatan kalau pengobatan gagal akan diobati dari awal lagi. Setelah mendapat informasi dari petugas kesehatan, membaiknya kesehatan pada beberapa responden justru meningkatkan motivasi mereka menyelesaikan pengobatan.      Faktor penghambat kelangsungan berobat, dari hasil diskusi masih menunjukkan bahwa stigma yang kuat di sandang oleh penderita dan keluarga, dan stigma ini menghambat kelangsungan penderita berobat. Yang membuat stigma TB sangat kuat adalah ketidaktahuan penderita, keluarga dan masyarakat. Petugas kesehatan sendiri masih mempunyai stigma pada penyakit ini, lamanya pengobatan, putusnya ketersediaan obat di Puskesmas dan keluarga, efek samping OAT, kesulitan ekonomi, jarak rumah penderita, keluarga dan puskesmas yang tidak mendukung karena adanya stigma, kunjungan petugas ke rumah sakit.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">WF 140-900 Diseases of the Respiratory System</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">1999</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Center for Research and Development of Disease Control, NIHRD</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Monograph</mods:genre></mods:mods>