<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Penelitian tentang Cara Pengolahan Ikan Laut (Tongkol, Udang, Kembung) yang Aman untuk Kesehatan</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Supraptini</mods:namePart><mods:namePart type="family">Supraptini</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Peristiwa keracunan makanan masih sering terjadi. Kasus keracunan dari jasa boga yang sering terjadi menurut catatan Direktorat Jenderal PPM&amp;PLP Dep. Kes. RI setelah  ditelusuri penyebabnya kebanyakan dari ikan laut khususnya ikan tongkol. Oleh karena itu perlu  dilakukan penelitian untuk mencari cara  mengatasi agar ikan khususnya ikan tongkol aman dikonsumsi.      Penelitian ini dimulai Juni 1997 sampai dengan Maret 1998. Sampel yang diperiksa ikan tongkol dan ikan kembung yang dibeli dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Pasar Cilincing. Ikan  diolah  dengan beberapa cara yaitu : ikan kukus segar, ikan masak santan, ikan goreng, ikan  bakar, dan ikan kukus busuk (ikan yang  sudah  tidak segar lalu dikukus).        Kemudian diperiksa kadar histaminnya dengan  menggunakan metode Mopper dan juga dilakukan  pemeriksaan mikroflora untuk bakteri dan jamur, dari hasil pemeriksaan tersebut kemudian  dianalisa cara perlakuan mana yang  paling  rendah histaminnya.      Dari hasil analisa kadar histamin diketahui  bahwa pada ikan mentah yang segar paling  rendah histaminnya (kurang dari 10 ppm) kemudian meningkat setelah dimasak dan meningkat lagi  setelah ikan masak tersebut disimpan beberapa jam kemudian. Namun bila ikan yang dimasak  betul&amp;#8211;betul masih segar, kadar histamin untuk  ikan masak yang telah mengalami penyimpanan 2-3 jam masih kurang dari 50 ppm. Urutan prioritas  cara mengolah ikan berdasar kandungan  histaminnya adalah ikan masak santan, ikan goreng, dan ikan bakar.      Kesimpulan dari penelitian ini, untuk memasak  ikan yang pertama kali harus diperhatikan  adalah kesegaran dari ikan yang akan dimasak. Oleh karena itu pada pasca panen ikan perlu  penanganan yang baik. Jenis jamur yang banyak  dijumpai pada sampel ikan : A.niger, A. ochraceus, Khamir, Rhizopus sp, A. penicilloides Geotrichum sp.       Pada ikan yang telah diolah tidak ditemukan  bakteri patogen. Pada jasa boga yang  diobservase telah menunjukkan perilaku  pengelola makanan yang cukup baik, dan semuanya telah memenuhi hampir semua persyaratan  kesehatan jasa boga yang ditetapkan dengan  Permenkes RI No. 712.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">WB 300-962 Therapeutics</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">1998</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Center for Research and Development of Health Ecology, NIHRD</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Monograph</mods:genre></mods:mods>