<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Dampak Program Lantainisasi terhadap Kesehatan Balita di Kabupaten Purworejo dan Bandung</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Agustina</mods:namePart><mods:namePart type="family">Lubis</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat maka BKKBN telah melaksanakan  program lantainisasi di beberapa lokasi di Pulau Jawa.         Lantai merupakan salah satu faktor lingkungan yang diperkirakan akan mempengaruhi prevalensi  kecacingan pada anak balita.        Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat  dampak dari program tersebut di atas.         Penelitian dilakukan di 2 kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sebanyak 480 sampel  tanah, kuku dan tinja anak balita telah diambil  untuk diperiksa telur cacing A.lumbricoides, T.  trichiura dan cacing tambang.         Untuk pemeriksaan tinja dilakukan dengan menggunakan metode Suzuki (1975) yang telah  dimodifikasi dan dilakukan di RS di Purworejo dan laboratorium Kesehatan Lingkungan, Bandung.  Sedangkan pemeriksaan kuku dan tanah dilakukan di Puslit Ekologi Kesehatan.      Hasil menunjukkan, prevalensi ascariasis pada tinja anak balita adalah 16%, pada tanah 5% dan kuku sebesar 4%. Selanjutnya hasil tes statistik menunjukkan :      1.Tidak ada perbedaan prevalensi ascariasis di antara desa lantainisasi dan bukan lantainisasi;     2. Pada desa yang tidak mendapatkan program lantainisasi prevalensi trichiuriasis lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang mendapat  program lantainisasi;     3. Pendidikan KK dan ada tidaknya jamban  berpengaruh kepada prevalensi ascariasis pada anak balita;     4. Kebersihan tangan juga merupakan faktor  yang mempengaruhi prevalensi angka kecacingan,  tetapi panjang pendeknya kuku bukanlah faktor  yang menentukan ada tidaknya telur cacing.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">WC 680-950 Tropical and Parasitic Diseases</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">1998</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Center for Research and Development of Health Ecology, NIHRD</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Monograph</mods:genre></mods:mods>