<ctx:context-object xsi:schemaLocation="info:ofi/fmt:xml:xsd:ctx http://www.openurl.info/registry/docs/info:ofi/fmt:xml:xsd:ctx" timestamp="2017-11-07T07:56:15Z" xmlns:ctx="info:ofi/fmt:xml:xsd:ctx" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XML"><ctx:referent><ctx:identifier>info:oai:www.badankebijakan.kemkes.go.id:1830</ctx:identifier><ctx:metadata-by-val><ctx:format>info:ofi/fmt:xml:xsd:oai_dc</ctx:format><ctx:metadata><oai_dc:dc xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/ http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
        <dc:relation>http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/1830/</dc:relation>
        <dc:title>Pola Preskripsi Obat Generik di Apotek</dc:title>
        <dc:creator>Supardi, Sudibyo</dc:creator>
        <dc:subject>QV 701-835 Pharmacy and Pharmaceutics</dc:subject>
        <dc:description>Untuk mengetahui jenis dan jumlah obat generik dalam resep, pengaruh keahlian dokter terhadap  preskripsi obat generik, dan pendapat dokter terhadap obat generik, telah dilakukan  penelitian  deskriptif terhadap resep  di  apotek dan dokter praktek pada tahun 1986. Sebagai sampel diambil secara random 10% apotek di Jakarta (32 apotek) dan sensus apotek di Banjarmasin (14 apotek), serta seorang dokter praktek yang lokasinya terdekat dengan apotek, setiap apotek. Data jenis dan jumlah obat generik dikumpulkan dari apotek dengan cara memfotokopi resep-resep tanggal 5, l6 dan 25 Juni l986, sedangkan data keahlian dan pendapat dokter dikumpulkan dengan kuesioner. Pengolahan data dengan komputer.       Hasil analisis data menunjukkan bahwa :     1. Pemakaian obat generik melalui resep dokter masih rendah.          2. Probabilitas untuk mendapatkan obat generik dari satu lembar resep di Jakarta sebesar 0,1635 dan di Banjarmasin sebesar 0,0699.       3. Dokter responden di Jakarta dan Banjarmasin persentase terbesar menyatakan pernah mempreskripsi obat generik, meskipun kadang-kadang; dengan alasan menyesuaikan dengan ekonomi/keadaan pasien dan nama generik lebih populer/lebih mudah diingat.      4. Dokter responden di Jakarta dan Banjarmasin persentase terbesar berpendapat bahwa sebaiknya  mempreskripsi obat generik dilakukan pada unit pelayanan medik pemerintah, terutama rumah sakit. Mereka berpendapat obat nama dagang lebih mahal dan lebih disukai pasien.</dc:description>
        <dc:publisher>Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional</dc:publisher>
        <dc:date>1987</dc:date>
        <dc:type>Monograph</dc:type>
        <dc:type>NonPeerReviewed</dc:type>
        <dc:identifier>  Supardi, Sudibyo  (1987) Pola Preskripsi Obat Generik di Apotek.  Project Report. Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional.     </dc:identifier></oai_dc:dc></ctx:metadata></ctx:metadata-by-val></ctx:referent></ctx:context-object>