<ctx:context-object xsi:schemaLocation="info:ofi/fmt:xml:xsd:ctx http://www.openurl.info/registry/docs/info:ofi/fmt:xml:xsd:ctx" timestamp="2017-11-07T07:53:18Z" xmlns:ctx="info:ofi/fmt:xml:xsd:ctx" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XML"><ctx:referent><ctx:identifier>info:oai:www.badankebijakan.kemkes.go.id:1838</ctx:identifier><ctx:metadata-by-val><ctx:format>info:ofi/fmt:xml:xsd:oai_dc</ctx:format><ctx:metadata><oai_dc:dc xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/ http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
        <dc:relation>http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/1838/</dc:relation>
        <dc:title>Penyalahgunaan Obat Golongan Narkotik dan Psikotropik oleh Pasien Ketergantungan Obat</dc:title>
        <dc:creator>Supardi, Sudibyo</dc:creator>
        <dc:subject>QV 701-835 Pharmacy and Pharmaceutics</dc:subject>
        <dc:description>Penyalahgunaan obat adalah suatu penggunaan obat yang dapat menimbulkan keadaan yang tak terkuasai oleh individu dan dilakukan di luar  pengawasan medis, atau yang dapat           menimbulkan keadaan yang membahayakan/mengancam  masyarakat.       Penyalahgunaan obat dapat menyebabkan ketergantungan obat. Dalam upaya mendapatkan informasi tentang karakteristik, lingkungan sosial, obat yang disalahgunakan dan konsep serta metoda rehabilitasi pasien ketergantungan obat, maka dilakukan penelitian deskriptif dengan metode wawancara dan observasi terhadap semua pasien ketergantungan obat yang telah dapat diwawancarai dan sedang menjalani pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat di Jakarta, Inabah 1 di Ciamis, Inabah 13 di Yogyakarta dan Inabah 17 di Tasikmalaya antara   bulan Agustus sampai dengan Oktober 1990. Pertimbangannya  adalah  penyalahgunaan obat  merupakan hal yang peka dan illegal, sehingga sulit untuk mendapatkan responden di  masyarakat. Selain itu kriteria diagnosis secara medik sering membutuhkan konfirmasi laboratorium.      Hasil penelitian terhadap 69 responden pria, menunjukan sebagai berikut :      1. Karakteristik pasien persentase terbesar: berumur 16-25 tahun, belum menikah, pendidikan tamat SLP atau SLA dan berstatus pelajar/mahasiswa.       2. Lingkungan keluarga pasien persentase terbesar: tinggal dengan orang tua, jumlah anak 3-5 orang, keadaan ekonominya tinggi, komunikasi dalam keluarga sedang atau buruk, keluarga tidak rukun, pelaksanaan ibadah sedang, dan kebiasaan merokok/minuman keras/menggunakan obat dalam keluarga sedang.       3. Pasien persentase terbesar empunyai "konflik" dengan lingkungan keluarga, kemudian melarikan diri dari konflik tersebut dengan menyalahguna-0kan obat karena ingin tahu/mencoba, membeli obat dengan uang jajan dari orang tuanya dan  orang  tua baru mengetahui  anaknya menyalahgunakan obat setelah 1-3 tahun.       4. Lingkungan pemaparan obat persentase terbesar adalah lingkungan informal di kota besar (ibukota propinsi).               5. Obat yang disalahgunakan persentase terbesar psikotropik dan ganja serta penggunaannya  tidak terpisahkan dari minuman keras, karena Peraturan Menteri Kesehatan tentang minuman keras belum terlaksana sebagaimana mestinya.       6. Pasien persentase terbesar datang ke tempat rehabilitasi atas inisiatif orang tuanya dan  belum pernah berobat sebelumnya (pasien baru).       7. Ada perbedaan pada diagnosis, konsep pengobatan dan kriteria sembuh pasien ketergan-tungan obat secara medik dan spiritual. Secara medik, diagnosis pasien diperkuat            pemeriksaan laboratorium, konsep pengobatan bersifat "suportif" jiwa, dan kriteria sembuh  mempunyai ciri kepribadian matang. Secara spiritual, diagnosis berdasarkan pengakuan  pasien dan "pengamatan" pembina, konsep pengobatan bersifat "rekonstruktif" jiwa dan    kriteria sembuh antara lain timbulnya kesadaran untuk menjalankan ibadah dan bersikap anti terhadap obat.        8. Metoda dan kurikulum untuk rehabilitasi pasien di setiap inabah telah dibakukan dan bersumber dari ajaran Islam dengan pendekataan tasauf.       Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar :   &amp;#8226; Melihat kompleknya penyebab penyalahgunaan obat, maka penanganannya memerlukan langkah-langkah preventif, kuratif, represif dan rehabilitasi secara serempak, dimana tanggung  jawab usaha preventif lebih  dititik beratkan kepada orang tuanya.     &amp;#8226; Penyuluhan untuk pencegahan penyalahgunaan obat perlu melibatkan unsur agama, karena ternyata penyalahguna obat umumnya orang yang tidak melaksanakan ibadah ritual.     &amp;#8226; Ditjen POM dan Kanwil Depkes meningkatkan pengawasan distribusi dan penjualan obat-obat psikotropik di PBF, apotek dan  toko obat, serta melaksanakan Permenkes tentang minuman keras.     &amp;#8226; Dalam upaya rehabilitasi pasien, RSKO hendaknya meningkatkan kegiatan keagamaan dan Inabah meningkatkan variasi olahraga     &amp;#8226; Dalam upaya rehabilitasi pasien, Inabah perlu bekerja sama dengan puskesmas setempat untuk pengobatan komplikasi medik yang menyertai ketergantungan obat.    &amp;#8226; Perlu penelitian lebih lanjut untuk membandingkan efektifitas/efisiensi perawatan pasien  ketergantungan obat antara RSKO dengan Inabah, serta efektifitas dan efisiensi pasien gangguan kejiwaan antara RSJ dengan Inabah.</dc:description>
        <dc:publisher>Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional</dc:publisher>
        <dc:date>1991</dc:date>
        <dc:type>Monograph</dc:type>
        <dc:type>NonPeerReviewed</dc:type>
        <dc:identifier>  Supardi, Sudibyo  (1991) Penyalahgunaan Obat Golongan Narkotik dan Psikotropik oleh Pasien Ketergantungan Obat.  Project Report. Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional.     </dc:identifier></oai_dc:dc></ctx:metadata></ctx:metadata-by-val></ctx:referent></ctx:context-object>