<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Pengembangan Model Pemberdayaan Masyarakat Untuk Menurunkan Angka Kematian Bayi Akibat Penyakit Infeksi Berbasis llngkungan Dikabupaten Indramayu       Provinsi Jawa Barat</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Kasnodihardjo</mods:namePart><mods:namePart type="family">Kasnodihardjo</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Telah dilakukan penelitian menggunakan pendekatan survei dengan metode wawancara.       Lokasi penelitian mengambil 2 wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Jatibarang yang merupakan daerah perkotaan dan Kecamatan Kedokan Bunder yang merupakan daerah pedesaan. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner tcrsetruktur. Sebagai responden adalah ibu lrumah tangga yang mempunyai bayi dan atau anak balita jumlah sample yang diharapkan 400 namun hasil yang diperoleh 401 responden.       HasiI penelitian menunjukkan bahwa padaumumnya bu-ibu yang mempunyai bayi dan atau anak balita di Kabupatcn Indramayu Provinsi jawa Barat sudah mcngarah pada perilaku positif dalam arti benar. kaitannya dengan upaya pcncegahan penyakit infeksi berbasis lingkungan. Mcncuci tangan dcngan dcngan sabun baik. sebelum makan maupun buang air besar termasuk membcrsihkan kotoran bayi sudah dilakukan olch sebagim bcsar ibu-ibu Air minum untuk bayi sudah dimasak. Hampir scluruh respondcn mcmiliki jamban. yang diasumsikan sewaktu BAD termasuk membuang kotoran bayi tentunya dilakukan di jamban sehingga akan menunjang upaya pencegahan diarc pada bayi. Kcmungkinan masih ada bayi yang terserang diare karena masih ada ibu-ibu yang mencuci tangan tanpa dengan sabun baik sebelum makan maupun setelah BAB termasuk setelah membersihkan kotoran bayi karena kuman-kuman yang menyebabkan diare ditularkan mclalui tangan dan benda yang kotor. Ibu-ibu scwaktu mcmasak di dapur sambil menggendong bayi relatif cukup banyak. Sebagian  besar respondcn ada anggota keluarga yang lain mempunyai kebiasaan merokok dan dilakukannya berdekatan dengan bayi. Kebiasaan-kebiasaan terscbut mempunyai dampak terhadap keschatan bayi. bayi mcmpunyai  risiko terkcna ISPA. Asap yang dihasilkan baik oleh pembakaran didapur maupun oleh rokok dapat menyebabkan batuk dan gangguan pernafasan bayi dan jika berlangsung  lama dan terus menerus menyebabkan gangguan pada pernafasan yang kronis.       Menutup mulut dan hidung sewaktu batuk atau bersin serta membuka jendela sccara mtin sudah dilakukan oleh sebagian besar responden. Kebiasaan ini atan mengurangi penularan penyakit TBC yang tcrjadi pada bayi. walaupun kemungkinan bayi tctap akan terkena TBC karena kebasaan meludah dan membuang dahak disembarang tempat  masih dilakukan oleh sebagian besar ibu-ibu. Ditambahlagi masih adanya kcbiasaan tidur bersama-sama dalam satu ruang dalam keluarga responden. Maka kemungkinan bayi tcrtular TBC cukup  besar jika ada salah scorang anggota keuarga penderita TBC. Mcskipun sudah adanya upaya untuk mcnghindari gigitan nyamuk menggunakan repelen. pcnu1aran malaria dan DBD pada bayi tctap akan terjadi. Upaya lain sepcrti membakar obat  anti nyamuk bakar. pcnggunakan kclambu scwaktu tidur dan obat semprot belum banyak dilakukan oleh sebagian besar ibu-ibu.       Masih banyaknya ibu-ibu rumah tangga  yang mcmpunyai bayi dan atau anak balita berperilaku kurang benar kaitannya dcngan upaya pencegahan penularan  penyakitt berbasis dilingkungan. Bisa jadi ibu-ibu dalam mendapatkan informasitentang  masalah penyakit terscbut kurang. Barangkali pola-pola komunikasi yang selama ini untuk meningkatkan opengetahuan dan kcsadaran ibu-ibu  untuk berpcrilaku positif di bidang  kcsehatan kurang efektif. Dalam pada itu perlu stretegi intervensi yang dapat dengan mudah menumbuhkan motivasi ibu-ibu untuk terlibat langsung dalam upaya pencegahan penyakit.  Oleh karena itu perlu pola pembinaan dengan mengikutsertakan ibu-ibu yang mempunyai bayi dan atau anak balita untuk menimbulkan inisiatif perbaikan kesehatan lingkungan yang dimulai pada tingkat keluarga.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">WA 900-950 Statistics. Surveys</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2009</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Pusat Penelitian dan Pengembangan Ekologi dan Status Kesehatan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Monograph</mods:genre></mods:mods>