<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>EVALUASI PELAKSANAAN PEMBINAAN USILA OLEH TENAGA KESEHATAN PUSKESMAS DI JAWA TIMUR</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Didik</mods:namePart><mods:namePart type="family">Budijanto</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Agus</mods:namePart><mods:namePart type="family">Suprapto</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Telah dilaksanakan penelitian Evaluasi Pelaksanaan Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Oleh Tenaga Kesehatan Puskesmas di Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan mempelajari Pelaksanaan Pembinaan Kesehatan Usila yang dikaitkan dengan Buku Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut, mempelajari hambatan dalam pelaksanaannya dan hal ha1 lain yang mempengaruhi pelaksanaannya.       Dari ke 12 puskesmas yang melaksanakan kegiatan tersebut, tenaga pelaksana kegiatan seluruhnya dari tenaga Medis dan Paramedis. Sedangkan waktu pelaksanaan kegiatan pagi atau sore (di luar jam kerja). Kegiatan rapat kerja secara lintas sektor tentang kesehatan usia lanjut, masih berkisar 58,3% (7 puskesmas) saja yang melaksanakan. Dari jumlah tersebut hanya 42,9% (3 puskesmas) yang melaksanakan  1 kali per bulan. Pelaksanaan Kegiatan Promotif belum dipisah antara kelompok usia lanjut. Sedangkan penyuluhan terhadap keluarga usila hanya 58,3% (7 puskesmas) saja yang melaksanakannya. Sedangkan frekuensi kegiatan penyuluhan 1 kali per bulan pada sasaran usila 50% (6 puskesmas), keluarga Usila 57,l% (4 Puskesmas), Tokoh Maayarakat 50 % (4 puskesmas). Kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Berkala seluruhnya telah melaksanakan dimana 66,7 % diantaranya 1 kali per bulan. Kegiatan yang bersifat kuratif, 25 % menyatakan tidak merujuk ke pelayanan yang lebih mampu karena penderita merasa kurang mampu. Hambatan yang dirasakan dalam pelaksanaan berkisar antara profesionalisme tenaga, minimnya dana dan kurangnya koordinasi antar sektor.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">WA 525-590 Health Administration and Organization</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">1994</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Surabaya</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Monograph</mods:genre></mods:mods>