<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Pengembangan Surveilans dalam Program Penanggulangan GAKY Berkesinambungan Penelitian Terapan di Kabupaten Magelang</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Untung S.</mods:namePart><mods:namePart type="family">Widodo</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Indonesia merupakan salah satu negera berkembang yang masih menghadapi masalah Gangguang Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). Hasil pemetaan GAKY tahun 1982 dan 1998 belum menunjukkan penurunan angka prevalensi yang menggembirakan. Hasil pemetaan tahun 2003 tidak terjadi penurunan bahkan relatif mningkat (dari 9,8 % menjadi 11,7%). Di sisi lain juga terjadi perluasan dan penyebaran daerah endemik GAKY, tidak saja di dataran tinggi namun juga di dataran rendah dan pantai.   Fenomena ini menunjukkan kalau GAKY dapat dikatakan masalah laten yang harus terus menerus dimonitor secara berkesinambungan apabila tidak menginginkan bertambah buruknya keadaan.   Untuk menanggulangi masalah itu WHO/UNICEF/ICCIDD  menganjurkan dilakukannya surveilans dengan 4 goal indikator yang harus dipantau dalam 10 indikator program yang berrkesinambungan. Kabupaten Magelang adalah kabupaten endemik GAKY yamg hingga sekarang masih ditemukan anak-anak dengan gejala hypothyroid, bahkan kretin. Untuk daerah seperti ini anjuran WHO/UNICEF/ICCIDD seharusnya  diterapkan.   Untuk itu dilakukan kegiatan uji coba membuat suatu model pelaksanaan program penanggulangan GAKY yang ideal, di Kabupaten Magelang. Dalam makalah ini diuraikan bagaimana pembentukan suatu program berkelanjutan yang didalamnya terdapat kegiatan surveilans GAKY terlaksana. Mulai dari tahap persiapan yang terdiri dari pendekatan kepada eksekutif, legislatif, lintas sektor dan lembaga formal maupun informal  hingga pelaksanaan monitoring dan evaluasi program. Dari 10 indikator program yang berkelanjutan , 9 diantaranya dapat dilaksanakan.   Hasil  uji coba ini membuktikan bahwa jika memang ada kemauan dan dengan serius ditangani, anjuran WHO/UNICEF/ICCIDD tersebut dapat dilaksanakan. Seiring dengan era otonomi daerah diharapkan daerah endemik lain  dapat mengembangkan kegiatan yang sama dalam rangka menghilangkan masalah  GAKY dari bumi Indonesia.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">QV 270-285 Water. Electrolytes</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2004</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Monograph</mods:genre></mods:mods>