<ctx:context-object xsi:schemaLocation="info:ofi/fmt:xml:xsd:ctx http://www.openurl.info/registry/docs/info:ofi/fmt:xml:xsd:ctx" timestamp="2017-10-28T07:26:45Z" xmlns:ctx="info:ofi/fmt:xml:xsd:ctx" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XML"><ctx:referent><ctx:identifier>info:oai:www.badankebijakan.kemkes.go.id:2751</ctx:identifier><ctx:metadata-by-val><ctx:format>info:ofi/fmt:xml:xsd:oai_dc</ctx:format><ctx:metadata><oai_dc:dc xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/ http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
        <dc:relation>http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/2751/</dc:relation>
        <dc:title>PENYAKIT KRONIS DAN GANGGUAN EMOSIONAL DI INDONESIA</dc:title>
        <dc:creator>Roosihermiatie, Betty</dc:creator>
        <dc:creator>Rachmawati, Tety</dc:creator>
        <dc:creator>Budiarto, Wasis</dc:creator>
        <dc:subject>WT 500 Chronic Disease</dc:subject>
        <dc:description>Analisis lanjut ini bertujuan menentukan hubungan penyakit kronis (Asma, Penyakit Jantung, Diabetes Mellitus, Tumor/Kanker) dan gangguan emosional di Indonesia. Data Riskesdas menunjukkan 83.246 (12,5%) orang yang mengalami gangguan emosional (kriteria WHO). Gangguan emosional banyak didapatkan pada masyarakat dengan karakteristik umur yang tua, wanita, pernah kawin, pendidikan rendah, tidak memiliki pekerjaan, tinggal di daerah perkotaan dan dengan status ekonomi atau pengeluaran keluarga rendah. Hasil menunjukkan penderita penyakit kronis, masing-masing asma 3,127 kali, penyakit jantung: 4,584 kali, DM: 2,295 kali dan tumor/kanker: 2,090 kali lebih banyak yang mengalami gangguan emosional (terutama gejala-gejala depresi) dibandingkan dengan yang tidak menderita penyakit kronis untuk variable sosio-ekonomi konstan.      Penyakit kronis memberikan beban kesehatan masyarakat yang lebih besar dibandingkan dengan penyakit akut karena perlu kunjungan dan obat-obatan yang lebih banyak, hubungannya dengan gangguan emosional. Karena diperlukan beaya yang cukup besar maka adanya jaminan kesehatan bagi masyarakat dapat mengurangi beban beaya pasien dalam pengobatan penyakit kronis.      Direkemondasikan Depkes menggunakan pendekatan multidisipliner dengan memperhatikan hubungan pasien, provider, dan sistemnya dalam penanganan penyakit kronis. Pelayanan kesehatan mental diprioritaskan untuk masyarakat dengan karakteristik umur yang tua, wanita, pernah kawin, pendidikan rendah, tidak memiliki pekerjaan, tinggal di daerah perkotaan dan dengan status ekonomi atau pengeluaran keluarga rendah. Dan dalam era Desentralisasi, diharapkan bahwa setiap kabupten/kota di Indonesia memiliki spesialis jiwa atau psikiatris.</dc:description>
        <dc:publisher>Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem dan Kebijakan Kesehatan</dc:publisher>
        <dc:date>2008</dc:date>
        <dc:type>Monograph</dc:type>
        <dc:type>NonPeerReviewed</dc:type>
        <dc:identifier>  Roosihermiatie, Betty and Rachmawati, Tety and Budiarto, Wasis  (2008) PENYAKIT KRONIS DAN GANGGUAN EMOSIONAL DI INDONESIA.  Project Report. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem dan Kebijakan Kesehatan.     </dc:identifier></oai_dc:dc></ctx:metadata></ctx:metadata-by-val></ctx:referent></ctx:context-object>