<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Standarisasi Tanaman Obat Unggulan Tahap II: Perbanyakan dan Karakterisasi Aksesi Daun Ungu, Kelembak, Iler, Adas dan Daun Duduk. (Laporan Penelitian)</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Dyah</mods:namePart><mods:namePart type="family">Subositi</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Dian</mods:namePart><mods:namePart type="family">Susanti</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Fauzi</mods:namePart><mods:namePart type="family">Fauzi</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Jamu saintifik membutuhkan tanaman terstandar sebagai bahan jamu untuk menjamin mutu, khasiat dan keamanan. Standarisasi tanaman perlu dilakukan untuk memperoleh tanaman terstandar, proses ini dilakukan bertahap sesuai dengan jenis tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh daun ungu, daun duduk, kelembak, iler dan adas sebagai bahan baku jamu yang berkualitas. Koleksi aksesi telah dilakukan pada tahap I (2016) dan dilanjutkan dengan perbanyakan serta karakterisasi aksesi pada tahap II (2017). Karakterisasi aksesi meliputi karakterisasi morfologi, genetik, penetapan kadar flavonoid total dan keragaan pertumbuhan aksesi terpilih yang ditanam pada kondisi yang sama. Sebanyak 24 aksesi terpilih daun ungu (Graplophython pictum) dikarakterisasi dengan perlakuan sumber bahan stek. Stek yang berasal dan  bagian pucuk menunjukkan keragaan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan stek dan  bagian tengah clan pangkal. Profiling kimia menunjukkan daun ungu mempunyai variasi kandungan kimia yang sempit, pengelompokkan secara umum berdasar lokasi koleksi dan variasi warna daun. Delapan belas aksesi iler (Plectranthus scutellarioides) ditanam pada kondisi lahan yang sama. Karakterisasi genetik menggunakan penanda ISSR menunjukkan bahwa pola pengelotnpokkan iler berdasarkan lokasi asal koleksi dan warna daun dan metnpunyai keragaman yang sempit. Keragaman genetik aksesi iler yang tinggi yaitu 33,59-90,00%. Hal yang sama ditunjukkan pada profiling kimia. melalui metode TIC dan FUR. Aksesi daun duduk (Desmodiun2 triquetrztm) yang berasal dari Pacitan menunjukkan. karakter baik morfologi, genetik dan kimia yang berbeda dari 6 aksesi lainnya. Pertumbuhan terbaik dan kadar flavonoid tinggi ditunjukkan pada aksesi Karanganyar. Keragaman genetik daun duduk yang sedang yaitu 61,73-95,45%. Sembilan aksesi kelembak (Rheum officinale) terbagi menjadi 2 varian yaitu kelembak jamu dan kelembak jawa yang kemudian ditanam pada lokasi yang sama menunjukkan pertumbuhan yang berbeda. Kelembak jamu menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding kelembak jawa. Karakterisasi genetik menggunakan RAPD dan profiling kimia menunjukkan pemisahan yang jela.s antara kelembak jamu dan jawa, varian yang sama dikoleksi dad lokasi herb eda menunjukkan kemiripan yang tinggi bahkan identik. Aksesi adas (Foeniculum vulgare) yang berasal dan i Tawangmangu menunjukkan karakter pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan 5 aksesi lainnya. Pengelompokkan secara profit kimia menunjukkan hasil yang sama yaitu aksesi Tawangmangu terpisah dari 5 aksesi yang mengelompok jadi satu.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">QV 701-835 Pharmacy and Pharmaceutics</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2017</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Monograph</mods:genre></mods:mods>