%0 Report %9 Technical Report %A Ginanjar, Aryo %A Dinata, Arda %A W.N., Rohmansyah %C Pangandaran %D 2015 %F bkpkkemkes:3100 %I Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan %K DENGUE HEMORRHAGIC FEVER %T LAPORAN AKHIR PENELITIAN RISBINKES 2015 PENGEMBANGAN MODEL SURVEILANS AKTIF DEMAM BERDARAH DENGUE MELALUI METODE PELAPORAN KEWASPADAAN DINI RUMAH SAKIT (KDRS) DI KOTA TASIKMALAYA %U http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/3100/ %X ABSTRAK Demam Berdarah Dengue masih menjadi masalah kesehatan yang sulit ditangani di Indonesia, tidak terkecuali di Provinsi Jawa Barat terutama di Kota Tasikmalaya sebagai salah satu daerah endemis DBD dengan penemuan kasus yang tinggi setiap tahunnya. Sistem pelaporan kasus DBD belum dilaksanakan dengan baik terutama penemuan kasus di rumah sakit. Rumah sakit seringkali terlambat melaporkan bahkan sebagian besar rumah sakit umum di Kota Tasikmalaya belum melaporkan data kasus pasien DBD yang ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model surveilans aktif DBD untuk meningkatkan kualitas dari pelaporan Kewaspadan Dini Rumah Sakit mengenai penyakit DBD di Kota Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan design Quasi Experiment (eksperimen semu) dengan rancangan rancangan pretest, intervensi dan postest dalam satu kelompok. Responden berjumlah 11 orang yang merupakan 8 orang petugas surveilans dari 7 RSU di Kota Tasikmalaya ditambah 3 orang pengelola program DBD Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya. Wawancara dan obervasi dilakukan untuk mengukur pengetahuan dan sikap petugas, sarana penunjang serta kualitas laporan KDRS DBD. Kemudian dilakukan intervensi berupa Lokakarya dan Pelatihan Singkat untuk menentukan model pelaporan yang paling tepat untuk diterapkan. Monitoring pasca intervensi dilakukan selama 3 bulan dan diukur kembali seluruh aspek yang diteliti. Hasilnya terjadi peningkatan pada seluruh aspek yang diukur. Pengetahuan responden meningkat dari kategori kurang saat pra intervensi menjadi kategori baik dan aspek sikap dari kategori cukup menjadi baik. Sarana penunjang mengalami peningkatan dari kategori kurang menjadi cukup, dan model yang telah diterapkan mampu meningkatkan kualitas KDRS dari kategori kurang menjadi kategori yang cukup. Upaya intervensi berupa Lokakarya dan Pelatihan Singkat mengenai Laporan KDRS DBD telah dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap dari petugas surveilans mengenai pentingnya surveilans aktif DBD melalui sistem pelaporan KDRS. Kesimpulannya bahwa dengan pengembangan Model Surveilans Aktif yang diterapkan dalam penelitian ini telah mampu meningkatkan Kualitas Laporan KDRS sehingga apabila model ini dapat digunakan secara berkesinambungan diharapkan dapat mendukung upaya penanganan penyakit DBD di masyarakat secara lebih efektif dan efisien. Kata Kunci : Demam Berdarah Dengue, Pengembangan Model, Surveilans, Tasikmalaya.