%C Jayapura %L bkpkkemkes3151 %A Iman Hariman Saleh Sasto %A Hana Krismawati %A Melda Suebu %D 2016 %I Balai Penelitian dan Pengembangan Biomedis Papua %K plasmodium falciparum, streptomyces, actinobacteria %T Pengaruh Ekstrak Metabolit Sekunder Streptomyces sp. dari Actinomycetes Sedimen Kawasan Mangrove terhadap Plasmodium falciparum Secara in vitro : Laporan Akhir Penelitian Risbinkes 2016 %X Penelitian tentang Pengaruh Ekstrak Metabolit Sekunder Streptomyces sp. dari Actinomycetes pada Sedimen Kawasan Mangrove terhadap Plasmodium falciparum Secara in vitro telah dilakukan. Pengambilan sedimen mangerove untuk mengisolasi Streptomyces adalah berlokasi di hutan mangrove Hamadi-Jayapura. Isolasi selektif dilakukan dengan media selektif SCA (Starch Casein Agar). Identifikasi Streptomyces sp dilakukan dengan cara mikroskopis melalui pengamatan morfologi koloni dan pengecatan gram. Hasil isolasi Streptomyces selanjutnya difermentasi pada media FM3 hingga pada akhirnya didapatkan ekstrak metabolit sekunder Streptomyces. Ekstrak metabolit sekunder Streptomyces diuji daya hambatnya terhadap perkembangan Plasmodiun falcifarum. Berdasarkan analisa daya hambat ekstrak metabolit sekunder Streptomyces sp terhadap perkembangan Plasmodium falciparum menunjukan hasil yang baik dimana ekstrak Streptomyces dengan konsentrasi 100 ppm dapat menekan nilai rata-rata pertumbuhan Plasmodium falcifarum menjadi hanya 0,66% dengan nilai rata-rata penghambatan yaitu 95,20%. Nilai ini mengikuti tingkatan konsentrasi ekstrak yang diberikan hingga pada konsentrasi terendah yaitu 0,01 ppm, nilai rata-rata pertumbuhan Plasmodium falcifarum menjadi meningkat yaitu 10,89% dengan nilai rata-rata penghambatan yaitu 20,83%. Hasil analisis IC50 Plasmodium falcifarum pada kultur selama 48 jam yaitu 0,12186 μg/ml dan nilai ini termasuk paling baik karena suatu zat uji memiliki aktivitas daya hambat paling baik bila nilai IC50 ≤ 10 μg/ml. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak metabolit sekunder Streptomyces dari sedimen kawasan mangrove menunjukan kemampuan daya hambat pertumbuhan Plasmodium falcifarum paling baik sehingga berpotensi sebagai sumber antiperasit atau antimalaria.