%0 Report %9 Technical Report %A Yulidar, Yulidar %A Marleta Dewi, Rita %A Anorital, Anorital %C Banda Aceh %D 2016 %F bkpkkemkes:3181 %I Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan %K filariasis endemic disease %T Evaluasi Status Endemisitas Filariasis pada Beberapa Kabupaten di Provinsi Aceh dengan Pemeriksaan Mikroskopis, Brugia Test dan ICT %U http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/3181/ %X Pelaksanaan evaluasi status endemisitas filariasis pada beberapa kabupaten di Provinsi Aceh secara mikroskopis, Brugia Test dan ICT bertujuan untuk mendapatkan nilai microfilaria rate (mf rate), species microfilaria yang dominan, dan vektor filariasis sebagai erajat/status endemisitas filariasis Kabupaten Aceh Utara (POMP 1 tahun), Pidie (POMP 3 Tahun), dan Kota Langsa (non endemis) sebagai data dasarderajat/status endemisitas Filaraisis. Lokasi evaluasi di tiga Kabupaten yaitu Desa Binje dan Peunayan di Aceh Utara, Desa Tijue dan Paya di Pidie serta Desa Sungai Paoh dan Matang Seulimeng Kota Langsa di mulai dari bulan Juni sampai dengan Desember 2016. Berdasarkan hasil analisis data, sebanyak 1.800 responden yang ikut serta dalam evaluasi belum ditemukan positif mikrofilaria, positif antibodi terhadap infeksi oleh Brugi malayi dan positif antigen Wuchereria bancrofti di dalam darah responden. Secara keseluruhan, prefalensi responden terbanyak pada usia 15-24 tahun (328 responden) dan jenis kelamin responden didominasi oleh perempuan, mencapai 55,38%. Lama responden tinggal/menetap di lokasi evaluasi bervariasi, 362 responden sudah menetap selama 15-24 tahun, 356 responden sudah menetap selama 8-14 tahun,292 responden sudah menetap selama 3544 tahun, 217 responden sudah menetap selama 45-54 tahun, 134 responden sudah menetap selama 5565 tahun, 85 responden sudah menetap selama 67 tahun dan hanya 44 responden yang baru menetap antara 1-5 tahun. Untuk pertanyaan tahu tentang filariasis, 1,320 responden mengatakan tahu tentang filariasis dan bahwa filariasis itu adalah penyakit kaki gajah. Responden yang sudah minum obat 1 kali sebanyak 369 responden, minum obat 2 kali sebanyak 227 responden, yang sudah minum obat 3kali sebanyak 86 responden dan yang minum obat sampai 5 kali hanya 1 responden sedangkan yang belum pernah minum obat sebanyak 1.111 responden. Kelimpahan nisbi nyamuk yang diduga menjadi vektor filariasis di Kabupaten Aceh Utara adalah 9,5% Culex sitiens dengan puncak aktivitas menggigit pukul 22.00 s.d 23.00 dan 04.00 s.d 05.00, di Kota Langsa kelimpahan nisbi mencapai 23% Culex quinquifasciatus, puncak aktivitas menggigit pukul 01.00 s.d 02.00 dan di Kabupaten Pidie, kelimpahan nisbi mencapai 18% Culex quinquifasciatus dengan aktivitas menggigit pukul 02.00 sampai dengan 03.00.