%0 Report %9 Project Report %A Atmosukarto, Kusnindar %A Soesanto, Sri Soewasti %A Harun, Harmein %A Simanjuntak, Cyrus H. %A Sukana, Bambang %A Suharjo, Suharjo %C Jakarta %D 1991 %F bkpkkemkes:3633 %I Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan %K Tuberkulosis, Lingkungan, Pemukiman, TB Paru, Puskesmas %T Laporan Akhir Penelitian Pengaruh Lingkungan Pemukiman Dalam Penyebaran Penyakit Tuberkulosis %U http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/3633/ %X Telah diketahui bahwa lingkungan pemukiman yang sehat dapat mencegah penyebaran berbagai penyakit. Seberapa jauh lingkungan pemukiman berperan dalam penyebaran penyakit tuberkulosis, bila seorang penghuni telah menderita tuberkulosis dan telah berobat ke Puskesmas, belum diketahui dengan pasti. Untuk menjawab pertanyaan tersebut dilakukanlah penelitian ini. Penelitian dilakukan di wilayah Puskesmas Sepatan, Batu Ceper, Pabuaran Tumpeng dan Sukasari, Dati II Tangerang. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi langsung dan pemeriksaan sputum dan foto rontgen paru dari penderita dan seluruh keluarga penderita. Dari 369 orang yang diperiksa, 177 (48%) orang tersangka menderita TB paru. Dari seluruh jumlah bayi dan balita yang diperiksa, didapatkan foto rontgen relevan TB paru berturut-turut 85,7% dan 90,2%. Rata-rata jumlah penghuni dalam rumah sebanyak 6 orang, tersangka menderita TB paru 3 orang. Jadi seorang penderita yang telah berobat ke Puskesmas, masih dapat menulari penghuni satu rumah rata-rata 2 orang (33,3%). Menurut jawaban responden, hanya 45% rumah tangga yang melakukan vaksinasi BOG terhadap bayi-bayi mereka. Intensitas cahaya dalam rumah dan luasnya jendela berpengaruh secara berarti terhadap penyebaran penyakit dalam taraf nyata 0,05. Dari 65 rumah yang diukur intensitas cahayanya, 50% kamar tidur penderita 0 lux, 46% ruang tamu berkisar antara 1-49 lux. Rumah yang didapatkan tak berjendela sebesar 57%. Hasil pemeriksaan dahak menunjukkan 10,6% penderita indeks positif dan pada semua kelompok umur 4,2% positif TB paru.