<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Penelitian, Perencanaan, Pengadaan Penggunaan Obat Inpres Di Kabupaten/Kotamadya Rumah Sakit dan Puskesmas</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Gusti A.</mods:namePart><mods:namePart type="family">Okalid</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Retno</mods:namePart><mods:namePart type="family">Gitawati</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Dana inpres untuk obat telah dimulai sejak 1974 besarnya mulai dari. Rp. 50,-sampai Rp. 150,-per kapita pada 1979 - 1980, dan bersifat sebagai bantuan pada daerah.&#13;
 &#13;
Besarnya dana ini dirasakan tidak cukup oleh sebagian daerah tetapi sebagian lagi merasa cukup. Penelitian ini dimaksudkan untuk mencari sebabnya mengapa tidak cukup dan diteliti di Dinas Kesehatan tingkat II, Rumah Sakit tingkat II dan Puskesmas, secara Cross sectional dengan menggunakan kuesioner  dan formulir yang harus diisi oleh petugas daerah. Masing-masing daerah dikunjungi oleh satu  peneliti pusat. &#13;
&#13;
Dari penelitian ini ternyata obat tidak cukup oleh karena kurangnya kemampuan tanaga dalam perencanaan, pembelian obat yang lebih mahal, pembelian obat-obat  yang tak dibutuhkan, terlambatnya obat diterima, penggunaan obat untuk indikasi yang tidak tepat dan selera dokter serta kecenderungan menggunakan obat-obat yang sudah dikenal.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">QV 701-835 Pharmacy and Pharmaceutics</mods:classification><mods:originInfo><mods:publisher>Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Monograph</mods:genre></mods:mods>