%0 Report %9 Project Report %A Sukasediati, Nani %A Ayati, Hertiana %A Gitawati, Retno %A Wijaya, Ellen %A Kadarwati, Umi %A Budiharto, Martuti %C Jakarta %D 1986 %F bkpkkemkes:4006 %I Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan %K obat, obat esensial, farmasi, rumah sakit, puskesmas %T Laporan Penelitian Penggunaan Obat Esensial di Puskesmas, Rumah Sakit Kelas A, B, C, di Jawa 1985-1986 %U http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/4006/ %X Suryei penggunaan obat esensial di 15 puskesmas dan 10 rumah sakit sudah dilaksanakan. Survei sederhana ini bersifat eksploratif, sampel diambil secara purposif disemua propinsi di P Jawa dan DI Yogyakarta. Cara pengambilan sampel yang demikian mengakibatkan keterbatasan hasil penelitian. Dari penelitian ini didapatkan 27 jenis obat esensial (16,7%) yang dibutuhkan tidak diterima oleh paling sedikit 5 puskesmas. Fenitoin 100mg sebagai antiepilepsi tidak dibutuhkan oleh puskesmas, namun dibutuhkan oleh rumah sakit, meskipun hanya 3 rumah sakit yang menyatakan kebutuhan akan fenitoin 100mg terpenuhi. Dalam hal kecukupan jumlah obat,nampaknya tidak terlalu merisaukan, walaupun obat yang harnganya relatif murah. Sedangkan kecukupan jumlah obat rumah sakit nampaknya perlu mendapat perhatian. Memberikan resep untuk membeli obat di apotik dan mengubah regimen dosis, adalah cara yang ditempuh untuk mengatasi kekurangan obat. Kelebihan obat-obat umumnya hanya disimpan. Pengembangan perencanaan yang mengarah pada sistem informasi timbal-balik dan gudang farmasi tingkat kabupaten, nampaknya diperlukan, untuk mengatasi kekurangan jumlah dan jenis obat .