<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Laporan Penelitian Penggunaan Obat Esensial Puskesmas 1984-1985</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Nani</mods:namePart><mods:namePart type="family">Sukasediati</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Hertiana</mods:namePart><mods:namePart type="family">Ayati</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Sarjaini</mods:namePart><mods:namePart type="family">Jamal</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Survei penggunaan obat  esensial telah dilakukan pada 27 puskesmas dari 9 propinsi di  Jawa  dan luar Jawa, Panelitian tertujuan untuk mengetahui kecukupan obat esensial baik jumlah  maupun  jenisnya,  dan cara-cara yang ditumpuk oleh puskesmas dalam mengatasi kekurangan dan kelebihan obat serta mencari  faktor-faktor  penyebab ketidak cukupan DE.  Propinsi diambil secara purposif  karena  keterbatasan biaya, sedangkan kabupaten diambil secara random.&#13;
Pamilihan puskesmas di  kabupaten tersebut di tentukan oleh dinas  kesehatan setempat. Data yang diambil adalah data umum  puskesmas  dan data  obat esensial meliputi,  kecukupan, kebutuhan, penerimaan cara-cara yang di tempuh untuk mengatasi kekurangan dan kelebihan  obat.&#13;
Dari penelitian diperoleh gambaran keadaan umum  puskesmas sebagai berikut  :  Sehingga  besar puskemas(74,0%) mendapat  kunjungan sampai 200  orang tiap hari, 81,4%  puskesmas telah melakukan perencanaan dan 66,7%  memiliki pelayanan kesehatan gigi. &#13;
Sebanyak 15 jenis DE yang dibutuhkan oleh semua puskesmas termasuk dalam kelompok terapi analgetik antipiretik,  antitakteri sistemik, obat saluran napas, antihistamin dan vitamin, Namun  dari 15 jenis obat tersebut hanya 9 jenis (60%)  yang diterima oleh semua puskemas, Selain ke  5 kelompok terapi diatas, obat-obat saluran cerna &#13;
dan obat kardiovaskuler tanyak dibutuhkan oleh puskesmas. &#13;
Sedangkan fenitoin 100  mg dan fenotarbital 100  mg tidak dibutuhkan.&#13;
Dalam hal kecukupan jumlah, adanya perencanaan agaknya  tidak mempengaruhi kecukupan obat. Umumnya jumlah obat yang diterima  hanya cukup saja atau bahkan  kurang.  Panerimaan antitakteri sistemik tidak cukup pada 20  puskesmas memberikan resep kepada penderita dan mengutah regimen terapi adalah cara-cara yang banyak di tempuh, oleh puskesmas dalam mengatasi kekurangan obat, Sedangkan  dalam menangani obat terlebih,  sebagian  besar puskesmas hanya  menyimpan  saja, Menyimpan obat berlebih dapat menimbulkan kesulitan baru. &#13;
Karena itu diperlukan suatu jaringan informasi antar puskes mas dan dinas kabupaten setempat dan adanya depat farmasi.  Depot farmasi lebih bertindak sebagai pengatur lalu lintas obat. Laporan obat bulanan diserderhanakan dan di evaluasi secepatnya dan dikembalikan kepada setiap puskesmas sehingga mengetahui situasi obat didaerah tersebut.  Diperlukan pula penyuluh tentang perencanaan dan tata cara pemusnahan obat rusak.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">QV 1-57 Reference Works. General Works</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">1985</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Monograph</mods:genre></mods:mods>