<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Laporan Penelitian Pola Peresepan Polifarmasi Pada Kelompok Orang Lanjut Usia</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Hestining Pupus</mods:namePart><mods:namePart type="family">Pangastuti</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Sarjaini</mods:namePart><mods:namePart type="family">Jamal</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Raharni</mods:namePart><mods:namePart type="family">Raharni</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Jumlah penduduk di Indonesia yang dikategorikan lanjut usia (Lansia), yaitu umur 60 tahun ke atas dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kelompok Lansia cenderung&#13;
menderita lebih dari satu penyakit atau menderita penyakit kronis sekaligus, sehingga berkemungkinan besar menggunakan polifarmasi (3 macam obat atau lebih) dalam waktu yang bersamaan. Dalam rangka mengoptimalkan penatalaksanaan pasien Lansia dilakukan penelitian Pola peresepan polifarmasi pada kelompok lansia di lima rumah&#13;
sakit pemerintah tipe A dan B di Jakarta, Bandung, Y ogyakarta dan Surabaya. Penelitian ini bersifat cross sectional yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran prevalensi peresepan (preskripsi) polifarmasi pada kelompok Lansia, mengidentifikasi berbagai faktor dalam terjadinya polifarmasi, mengetahui dampak polifarmasi terhadap biaya obat dan efek samping obat (hila ada), dan menyusun rancangan modul preskripsi obat yang rasional untuk pasien Lansia.&#13;
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa prevalensi polifarmasi dari 245 pasien Lansia yang dirawat di lima rumah sakit pemerintah tipe A dan B sebesar 87,4%,&#13;
sisanya 12,6% yang preskripsi obatnya tidak polifarmasi. Faktor- faktor yang mempengaruhi dokter dalam preskripsi obat pada pasien Lansia antara lain: diagnosa&#13;
penyakit, umur dan kondisi fisiologis pasien Lansia. Polifarmasi ternyata berpengaruh terhadap tinggi rendahnya biaya obat yang dibayar pasien. Walaupun secara teoritis polifarmasi kemungkinan besar terjadinya antaraksi obat dan efek samping obat, namun&#13;
dalam penelitian ini tidak ditemukan adanya efek samping obat baik pada pasien yang mendapatkan polifarmasi maupun yang tidak mendapatkan polifarmasi. Penelitian ini &#13;
juga menyusun rancangan modul preskripsi obat untuk pasien Lansia (suplemen).</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">QV 701-835 Pharmacy and Pharmaceutics</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">1999</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Pusat  Penelitian dan Pengembangan Farmasi</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Monograph</mods:genre></mods:mods>