<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Laporan Pengaruh Defisiensi Selenium Terhadap Penyerapan Iodium Pada Penderita Gondok Di Daerah Kabupaten Magelang</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Jasmaini</mods:namePart><mods:namePart type="family">Iljas</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Pengaruh defisiensi selenium terhadap reaksi biologis tubuh sudah banyak dilaporkan antara lain &#13;
gangguan pada:  1.  Fungsi  hormon tiroid,  2.  Immunitas,  3.  Kelenjar prostat,  4.  pangkreas, 5. &#13;
Kardiomiopati, 6.  Kardiovaskuler,  7.  Immunitas  partikuler seluler,  8.  pembentukan sperma,  9. &#13;
timbulnya platelet agregasi, 10, timbulnya kanker di beberapa bagian tubuh. Oleh karen itu selenium &#13;
adalah elemen runut (trace elemen ) yang esensia1 dengan nilai RDA 200 ppm.&#13;
Selenium merupakan prekursor pembentukan enzim iodotironin 5' deiodinase ( ID ), bila  terjadi &#13;
defisiensi selenium menyebabkan terhambatnya pembentukan ID-tipe I,II, dan III.  Kelenjar tiroid gagal berfungsi hila proses deiodinasi dari T 4 menjadi T 3  tidak berjalan normal akibat kekurangan ID.  Pad a jaringan  a tau peri fer defisiensi selenium menyebabkan produksi T3 terganggu, akibatnya proses deiodinasi yang dikatalisis oleh  enzim ID-tipe I  akan terhambat,  sehingga menimbulkan gejala hypothyroidsm.  Jadi iodotironin- 5' deiodinase yang juga adalah selenoenzim  bertanggung jawab terhadap clearence  T3 dalam darah ,  yang dapat menghambat perubahan  T4  menjadi T3. Defisiensi selenium ini juga mempengaruhi gambaran klinis tubuh menjadi defisiensi iodium.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita gondok mengalami defisiensi selenium. Kandungan selenium dalam darah anak sekolah di  4 kecamatan di daerah gondok endemik di  Kabupaten  Magelang rata-rata sebesar  8,4 ± 0,5 ppm. Sejalan dengan ini  ekskresi iodium ke dalam urin 24 jam &#13;
pada subyek yang sama rata-rata sebesar 148, 2 ± 8,9 ppm.  Jumlah iodium yang dapat diserap oleh tubuh penderita gondok rata-rata 2,2 %&#13;
Sesuai dengan hasil penelitian ini disarankan agar penelitian defisiensi selenium ini dilanjutkan, yaitu &#13;
yang perlu ditindaklanjuti adalah dampak defisiensi selenium  terhadap faal  yang lain  seperti di  Kecamatan Sawangan dan Salaman. Disamping itu juga perlu dibuatkan data dasar ( base line  ) untuk penderita gondok, untuk dapat menentukan kebijaksanaan baru dalam upaya penanggulangan GAKI agar dapat memberikan hasil yang diharapkan.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">QV 701-835 Pharmacy and Pharmaceutics</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">1999</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Monograph</mods:genre></mods:mods>