<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Laporan Penelitian Budidaya Multilokasi Tanaman Daun Duduk (Desmodium Triquetrum (L.) DC. Untuk Mempoleh Simplisia Yang Berkualitas</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Sutjipto</mods:namePart><mods:namePart type="family">Sutjipto</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Sugeng</mods:namePart><mods:namePart type="family">Sugiarso</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Djumidi</mods:namePart><mods:namePart type="family">Djumidi</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Yuli</mods:namePart><mods:namePart type="family">Widyastuti</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Slamet</mods:namePart><mods:namePart type="family">Wahyono</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Desmodium triquetrum  (L.)  DC.  suku  Leguminosae  merupakan tanaman kosmopolit yang dapat tumbuh  pada daerah dengan ketinggian 0 - 1.500 m dpl. Simplisia berupa daun yang banyak digunakan untuk obat tradisional, pemakaian dalam negeri cukup banyak, tercatat pada tahun  1990 sebanyak 1.799 kg,  dimana bahan tersebut sebagian besar diperoleh dari tanaman yang belum dibudidayakan. Hal ini &#13;
mengakibatkan baik mutu maupun ketersediaan bahan secara berkesinambungan tidak terjamin. Oleh karena itu tanaman tersebut perlu dibudidayakan, namun belum ada pedoman yang tepat  untuk membudidayakan tanaman  tersebut  maka perlu diteliti budidayanya.&#13;
Berkaitan dengan hal tersebut di atas maka dilakukan penelitian budidaya multilokasi  tanaman  daun duduk (Desmodium triquetrum  (L.) DC.)  untuk memperoleh &#13;
simplisia yang berkualitas dengan metode eksperimental di lahan pada 3 ketinggian tempat tumbuh dengan rancangan split-plot yang terdiri dari 2 faktor diulang 3 kali.&#13;
Faktor. 1  : sebagai main plot dengan taraf pada jenis tanah (J). &#13;
J1 = jenis andosol, &#13;
12 = jenis latosol, &#13;
J3 = jenis regosol. &#13;
Faktor. 2  : sebagai sub. plot dengan taraf pada dosis pupuk urea (N). &#13;
NO = 0  gram, &#13;
Nl = 2,5 gram, &#13;
N2 =  5  gram, &#13;
N3 =  7 ,5 gram. &#13;
Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa tanaman Desmodium triquetrum (L.) DC. dapat tumbuh pada ketinggian 200 m dpl., 700 m dpl. dan 1.200 m dpl. pada jenis tanah regosol, andosol dan latosol, namun bila dilihat produksinya berbeda. &#13;
Perlakuan jenis tanah dan dosis pupuk mempunyai pengaruh beda nyata terhadap hasil produksi daun segar maupun daun kering. Hasil produksi daun segar dan daun kering dari tanaman yang ditanaman pada ketinggian 700 m dpl. dan 1.200 m dpl. pada jenis tanah andosol dan dosis pupuk urea 5 gram/tanaman menunjukan hasil produksi yang tertinggi, namun pada ketinggian 200 m dpl. hasil produksi daun segar maupun &#13;
daun kering yang tertinggi pada jenis tanah latosol dengan dosis pupuk urea 5 gram/tanaman. Hasil produksi daun segar yang tertinggi pada penelitian diketinggian 200 m dpl. 191,43 gram/tanaman dan hasil produksi daun kering 75,43 gram/tanaman.&#13;
Hasil produksi tertinggi pada penelitian di ketinggian 700 m dpl. 206,20 gram/ tanaman. Dan hasil produksi daun kering 79,32 gram/tanaman. &#13;
Hasil produksi daun segar tertinggi pada ketinggian 1.200 m dpl. 35,2 gram/ tanaman. Hasil produksi daun kering 16,72 gram/tanaman. &#13;
Jadi dapat disimpulkan bahwa tanaman Desmodium triquetrum (L.) DC. dapat dibudidayakan pada ketinggian 200 m dpl., 700 m dpl. dan 1.200 m dpl. pada jenis tanah regosol, latosol dan andosol. Namun hasil produksi pada ketinggian 1.200 m dpl. jauh lebih rendah bila dibandingkan hasil produksi pada dua ketinggian lainnya. (700 m dpl. dan 200 m dpl.)</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">QV 701-835 Pharmacy and Pharmaceutics</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2000</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Balai Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Monograph</mods:genre></mods:mods>