%0 Report %9 Project Report %A Sulistiyowati, Ning %A Senewe, Felly Philipus %A Sondakh, Jimmy %C Jakarta %D 2009 %F bkpkkemkes:4238 %I Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan %K status kesehatan ; remaja %T Laporan Akhir Analisis Lanjut Data Rikesdas 2007 Status Kesehatan Remaja di Indonesia %U http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/4238/ %X Sampai sekarang ini masih cukup rendah kesehatan remaja di Indonesia. Menurut WHO, remaja mencakup individu dengan usia 10-19 tahun. Sedangkan definisi remaja menurut survei kesehatan reproduksi remaja Indonesia adalah perempuan dan laki-laki belum kawin yang berusia 15-24 tahun. Analisis lanjut ini dibuat berdasarkan data Riskesdas 2007 yang digabung dengan data Susenas Kor 2007. Analisis ini untuk mengetahui status kesehatan remaja di Indonesia. Kajian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan masukan kepada pengambil kebijakan kesehatan khususnya kesehatan remaja di Indonesia. Prevalensi penyakit menular pada remaja paling banyak menderita sakit ISPA (21,7%), diare (7,7%), typhoid (1,9%) selanjutnya malaria (1,6%) dan pneumonia (1,3%). Prevelensi penyakit tidak menular pada remaja lebih banyak menderita Jantung (4,1%) kemudian Asma (2,1%), sedangkan DM dan Tumor masih rendah. Prevalensi kesehatan mental remaja ditemukan 10,1%. Pada gangguan kesehatan mental paling banyak remaja mengeluh sakit kepala (35,0%) kemudian diikuti mudah Ieiah (19,9%), sulit tidur (14,8%), rasa tidak enak di perut (14,6%), tidak ada nafsu makan (13,9%),tegang,cemas,kuatir (11,8%) dan mudah takut (9,8%). Kesehatan mata pada remaja yang bermasalah pada mata yakni mata buta (<3/60-0), low vision <20/60-3/60) atau sub normal (<20/20-20/60) sebesar 3,6%. Gangguan penglihatan mata pada remaja prevalensi mata juling (0,4%), prevalensi pterigium (0,4%), dan prevalensi parut kornea (0,1%). Masalah kesehatan gigi dan mulut pada remaja sebesar 20,8%, remaja yang menjalani pengobatan gigi dan mulut sebesar 86,0%, remaja yang giginya sudah ditambal sebesar 33,6% dan gigi palsu sebesar 1,3%. Remaja yang menerima konseling gigi dan mulut sebesar 13,0%. Status gizi remaja diukur dengan kategori IMT yakni BB per TB2 (dalam cm), ditemukan remaja yang sangat kurus (24,3%), remaja kurus (16,5%). Sedangkan remaja yang overweight sebesar 4,4% dan remaja obesitas sebesar 1,3%. Remaja yang sangat kurus banyak pada remaja usia muda, lakilaki, tinggal di perkotaan, dan pada tingkat sosial ekonomi rendah. Remaja yang overweight lebih banyak pada remaja usia 20-24 tahun, perempuan, tinggal di perkotaan dan tingkat sosial ekonomi baik. Kalau menurut pola konsumsi makanan lebih dari 1 kali per hari, paling banyak remaja mengkonsumsi makanan mengandung bumbu penyedap (80,3%), makanan manis (62,9%), makanan asin (30,4%), makanan/minuman berkafein (21,5%) dan makanan yang berlemak (16,7%). Distribusi frekuensi karakteristik remaja menurut kelompok umur paling banyak kelompok umur 20-24 tahun (28,1%), dan paling sedikit kelompok umur 13-15 tahun (22,3%). Kalau distribusi menurut jenis kelamin relatif sama, menurut klasifikasi daerah ternyata remaja lebih banyak berada di perdesaan (55,6%) dibandingkan perkotaan (44,1%). Menurut status perkawinan sebanyak 13,2% remaja sudah kawin dan sebesar 0,6% remaja sudah cerai perkawinan (cerai hidup atau cerai mati), sedangkan menurut tingkat sosial ekonomi lebih banyak remaja yang tingkat sosial ekonomi rendah/miskin (kuintil 1 dan 2). Distribusi frekuensi remaja menurut tingkat pendidikan paling banyak pendidikan Tamat SD (31,3%) dan sudah sebesar 1,5% remaja perguruan tinggi. Sedangkan menurut pekerjaan paling banyak masih bersekolah (53,1%) dan masing-masing 5% pekerjaan petani (5,7%) dan buruh (5,4%), menurut provinsi paling banyak di provinsi pulau Jawa sekitar 13,7-17,5%. Ketanggapan pelayanan kesehatan paling banyak mengatakan mudah dikunjungi (87,1%), keramahan petugas kesehatan (86,9%) dan kerahasiaan (85,7%). Sedangkan ketanggapan rawat jalan paling banyak remaja mengatakan keramahan petugas (89,2%), kerahasiaan (86,1%) dan kejelasan informasi (85,9%). Pembiayaan kesehatan selama di rawat inap sebagian besar remaja mengatakan dibiayai sendiri (73,3%) dan dapat tanggungan Askes/Jamsostek (14,1%) (Tabel 19). Sedangkan pembiayaan selama rawat jalan paling banyak atas biaya sendiri (78,4%) kemudian Askes/Jamsostek (8,4%) dan Askeskin/SKTM sebesar 7,7%. Akses remaja ke pelayanan kesehatan sebesar 28,8%, paling banyak pada kelompok umur 20-24 tahun (31,2%) dan 10-12 tahun (30,5%), banyak pada perempuan, dan tinggal di perkotaan sebesar 29,2%. Selanjutnya ketersediaan fasilitas kesehatan Rumah Sakit (98,0%) dan Polindes (96,3%), sedangkan untuk akses ke Rumah sakit dan Polindes (99,1%) sementara akses ke UKBM sebesar 41,8%. Perilaku berisiko pada remaja yakni kebiasaan merokok sa at ini (16,1 %), meminum alkohol (59,6%), aktifitas fisik yang kurang (58,4%) dan konsumsi buah dan sayur yang kurang dari 5 porsi (93,7%). Perilaku higienis atau perilaku hidup bersih dan sehat dari remaja mengenai cuci tangan pakai sabun sebelum makan (72,6%), kebiasaan buang air besar di jamban (72,8%), mencuci tangan pakai sabun setelah buang air besar (70,6%), dan menggosok gigi setiap hari (95,9%). Prevalensi anemia pada remaja sebesar 10,6%, dimana menurut kelompok umur makin bertambah usia prevalensi anemia makin tinggi, lebih banyak pada perempuan, banyak pada status perkawinan cerai mati, dan pada tingkat sosial ekonomi kaya (q5). Menurut tingkat pendidikan lebih banyak ditemukan pada pendidikan tinggi, dan menurut status pekerjaannya lebih banyak pada pegawai BUMN (22,2%) dan ibu rumah tangga (19,5%). Prevalensi Ekskresi iodium dalam urin (EIU <100 ug/L) pada remaja 10-12 tahun sebesar 13,7%. Status kesehatan lingkungan remaja yang baik dilihat dari aspek konsumsi air ~20 liter sebesar 84,4%, saluran pembuangan air limbah (SPAL) tertutup (32,8%), memiliki tempat sampah diluar rumah tertutup (8,2%), dan kualitas fisik air minum yang baik (87,1%). Selanjutnya disarankan perlu dukungan perhatian dari semua pihak baik orang tua, guru dan sesama teman remaja untuk dapat bertanggung jawab dalam segala hal, dukungan guru dan orang tua terhadap pelaksanaan kegiatan remaja dan aktifkan kembali remaja pada kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler remaja.