relation: http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/4371/ title: Laporan Akhir Penelitian Fraksinasi Simplisia Daun Gigil (Dichroa febrifuga L.) untuk Menentukan Fraksi Aktif Terhadap Larva Anopheles Aconitus Dan Aedes Aegypti creator: Katno, Katno subject: QV 701-835 Pharmacy and Pharmaceutics description: Malaria dan demam berdarah merupakan penyakit menular yang bersifat endemik, dimana penularannya melalui vektor berupa nyamuk Anopheles sp. dan Aedes sp. Penyakit malaria di Indonesia prevalensinya masih cukup tinggi, terutama di luar pulau Jawa berkisar antara 1-34% sedangkan penyakit demam berdarah hampir setiap datang musim hujan selalu terjadi "ledakan" lebih-lebih di daerah perkotaan yang padat penduduknya, sehingga setiap tahun merupakan masalah kesehatan yang cukup serius. Usaha pencegahan bisa dilakukan dengan cara repelent sedangkan pengendalian vektomya bisa secara kimia, mekanis dan biologis. Pengendalian vektor penyakit malaria dan demam berdarah secara kimia bisa dilakukan dengan penyemprotan maupun menaburkan insektisida butiran/serbuk ke tempat jentik atau larva nyamuk. Karena penggunaan insektisida (larvasida) sintesis masih dikhawatirkan menimbulkan dampak lingkungan yang membahayakan, maka diupayakan insektisida/larvasida nabati atau bioinsektisida yang bahan dasamya berasal dari tumbuhan. Daun gigil (Dicroa febrifuga L.) merupakan salah satu tanaman obat perdu, tegak, tinggi antara 1,5-2,5m., dimana ekstrak etanol simplisia tersebut telah dinyatakan memiliki aktivitas larvasida terhadap larva Aedes aegypti dan Anopheles aconitus. Mengingat pada ekstral etanol masih cukup komplek senyawa yang terlarut, maka dilakukan ekstraksi bertingkat/ fraksinasi simplisia daun gigil dengan 4 macam pelarut yaitu n-Heksan, Etilasetat, Metanol dan Etanol 50%. Terhadap masing-masing fraksi dilakukan uji aktivitas larvisida terhadap larva Aedes aegypti dan Anopheles aconitus. Uji larvisida dilakukan dengan cara mengencerkan ekstrak/fraksi tersebut, mulai konsentrasi 10% hingga 0,1% dan dari masing-masing seri pengenceran diberi 10 ekor larva, kemudian diamati dan dihitung jumlah kematian larva secara periodik. Dari 4 fraksi tersebut fraksi metanol dan etanol 50% dinyatakan memiliki aktivtas antilarva dan dengan analisis probit setelah waktu kontak selama 6 jam ditentukan nilai konsentrasi/dosis ekatrak terhadap prosentase kematian larva (LC). Dari pcrcohaan ini diperoleh nila LC 50 untuk fraksi metanol terhadap larva Aedes aegypti 0.8044 dan terhadap larva Anopheles aconitus 0,8477. Sedangkan untuk fraksi etanol 50% terhadap larva Aedes aegypti 4,3620 dan terhadap larva Anopheles aconitus 5,8538. Dari percohaan ini dapat disimpulkan bahwa fraksi metanol memiliki aktivitas antilarva lebih besar dari farksi lain dcngan LC 95 terhadap larva Aedes aegypti 1,7174 dan terhadap larva Anopheles aconitus 2,38142 publisher: Balai Penelitian Tanaman Obat date: 2003 type: Monograph type: NonPeerReviewed format: text language: id identifier: http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/4371/1/FAR-420A-FRAKSINASI%20SIMPLISIA%20DAUN%20GIGIL%20UNTUK%20MENENTUKAN%20FRAKSI%20AKTIF%20TERHADAP%20LARVA%20DAN%20AEDES%20AEGYPTI.pdf identifier: Katno, Katno (2003) Laporan Akhir Penelitian Fraksinasi Simplisia Daun Gigil (Dichroa febrifuga L.) untuk Menentukan Fraksi Aktif Terhadap Larva Anopheles Aconitus Dan Aedes Aegypti. Project Report. Balai Penelitian Tanaman Obat, Jawa Tengah. (Unpublished)