<didl:DIDL xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns:didl="urn:mpeg:mpeg21:2002:02-DIDL-NS" xmlns:dii="urn:mpeg:mpeg21:2002:01-DII-NS" xmlns:dip="urn:mpeg:mpeg21:2002:01-DIP-NS" xmlns:dcterms="http://purl.org/dc/terms/" DIDLDocumentId="http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/4463" xsi:schemaLocation="urn:mpeg:mpeg21:2002:02-DIDL-NS http://standards.iso.org/ittf/PubliclyAvailableStandards/MPEG-21_schema_files/did/didl.xsd urn:mpeg:mpeg21:2002:01-DII-NS http://standards.iso.org/ittf/PubliclyAvailableStandards/MPEG-21_schema_files/dii/dii.xsd urn:mpeg:mpeg21:2005:01-DIP-NS http://standards.iso.org/ittf/PubliclyAvailableStandards/MPEG-21_schema_files/dip/dip.xsd">
  <didl:Item>
    <didl:Descriptor>
      <didl:Statement mimeType="application/xml">
        <dii:Identifier>http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/4463</dii:Identifier>
      </didl:Statement>
    </didl:Descriptor>
    <didl:Descriptor>
      <didl:Statement mimeType="application/xml">
        <dcterms:modified>2023-04-05T03:24:16Z</dcterms:modified>
      </didl:Statement>
    </didl:Descriptor>
    <didl:Component>
      <didl:Resource mimeType="application/xml" ref="http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/cgi/export/eprint/4463/DIDL/bkpkkemkes-eprint-4463.xml"/>
    </didl:Component>
    <didl:Item>
      <didl:Descriptor>
        <didl:Statement mimeType="application/xml">
          <dip:ObjectType>info:eu-repo/semantics/descriptiveMetadata</dip:ObjectType>
        </didl:Statement>
      </didl:Descriptor>
      <didl:Component>
        <didl:Resource mimeType="application/xml">
          <oai_dc:dc xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/ http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
        <dc:relation>http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/4463/</dc:relation>
        <dc:title>LAPORAN PROVINSI DI YOGYAKARTA RIFASKES 2011 RUMAH SAKIT UMUM PEMERINTAH</dc:title>
        <dc:creator>Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, -</dc:creator>
        <dc:subject>WX Hospitals and Other Health Facilities</dc:subject>
        <dc:description>Riset Fasilitas Kesehatan (Rifaskes) 2011 mencakup Rumah Sakit Umum (RSU)&#13;
Pemerintah. Tujuan Rifaskes adalah untuk memperoleh informasi terkini tentang supply&#13;
pelayanan kesehatan di RSU Pemerintah. Survey ini mencakup Sumber Daya Manusia;&#13;
peralatan kesehatan penting dan canggih; penyediaan pelayanan pada tingkat wilayah dan&#13;
nasional (stock opname), dan pemetaan ketersediaan supply fasilitas RSU Pemerintah di&#13;
berbagai wilayah (kabupaten/kota/propinsi).&#13;
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, maka&#13;
yang dimaksud dengan rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang&#13;
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan&#13;
pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. RSU adalah rumah sakit yang&#13;
memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.Rumah sakit&#13;
publik adalah rumah sakit yang dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah dan bahan&#13;
hukum yang bersifat nirlaba.&#13;
RSU Pemerintah yang telah berdiri sebelum Bulan Februari 2010 termasuk kedalam&#13;
kriteria inklusi sampel Rifaskes.RSU-RSU yang dulu pernah diklasifikasikan ke dalam RSU&#13;
Pemerintah tetapi kemudian mengalami perubahan kepemilikan dieksklusikan di dalam riset&#13;
ini. Indikator yang digunakan di dalam survei ini adalah beberapa indikator yang telah&#13;
ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan dan pelayanan-pelayanan yang sesuai dengan&#13;
Kepmenkes 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit.&#13;
DataRifaskes 2011 untuk RSU Pemerintah merupakan hasil wawancara dan observasi&#13;
terhadap sejumlah data dukung dengan hasil sebagai berikut:&#13;
1. Karakteristik RSU Pemerintah. Distribusi RSU Pemerintah responden Rifaskes di&#13;
Provinsi D.I.Yogyakarta berbeda dengan gambaran Nasional. Terdapat 10 RSU&#13;
Pemerintah di Provinsi D.I. Yogyakarta yang menjadi responden Rifaskes 2011,&#13;
terbanyak adalah RSU Pemerintah kelas B (40,0%). Terdapat 1 RSU Pemerintah (10%)&#13;
kelas A, 20% kelas C dan 30% kelas D.&#13;
Sebagian besar RSU Pemerintah yang menjadi responden Rifaskes di Provinsi&#13;
D.I. Yogyakarta adalah milik Pemerintah Kabupaten/Kota (60,0%). Terdapat 10,0% RSU&#13;
Pemerintah milik Kementerian Kesehatan dan 30,0% merupakan milik TNI/Polri. Tidak&#13;
ada satu pun RSU milik Pemerintah Propinsi/kementerian lain/BUMN yang terdapat di&#13;
Provinsi D.I.Yogyakarta.&#13;
Hasil Rifaskes di Provinsi D.I.Yogyakarta, didapatkan 10,0% RSU Pemerintah belum&#13;
terakreditasi. RSU Pemerintah yang terakreditasi terdiri dari 60,0% terakreditasi 5 jenis&#13;
pelayanan, 20,0% terakreditasi 12 jenis pelayanan dan yang terakreditasi 16 jenis&#13;
pelayanan hanya 1 RSU Pemerintah (10,0%).&#13;
Hanya terdapat 1 RSU Pemerintah (10,0%) yang menjadi wahana pendidikan&#13;
mahasiswa FK/PSPD dan merupakan RS Pendidikan. Sedangkan yang menjadi wahana&#13;
pendidikan tetapi bukan merupakan RS Pendidikan ada 40%. Klasifikasi RS Pendidikan&#13;
yang menjadi wahana pendidikan adalah RS Pendidikan Utama.&#13;
2. Sumber Daya Manusia RS. Seluruh RSU Pemerintah di Provinsi DI Yogyakarta sudah&#13;
memiliki dokter. Keberadaan empat jenis spesialis medik dasar (spesialis kesehatan anak, spesialis bedah, penyakit dalam serta kebidanan dan kandungan) di Provinsi&#13;
D.I. Yogyakarta berada di atas rerata Nasional. Demikian pula dengan keberadaan&#13;
spesialis medis penunjang yang juga di atas rerata Nasional.&#13;
Secara umum, gambaran ketenagaan kesehatan lainnya di RSU Pemerintah di Provinsi&#13;
D.I.Yogyakarta memiliki gambaran yang hampir sama dengan gambaran Nasional.&#13;
Tenaga keteknisian medis, radiografis, fisioterapis, okupasi terapis, analis kesehatan&#13;
dan perekam medis telah dimiliki oleh seluruh RSU Pemerintah di DI Yogyakarta.&#13;
Tenaga perawat, bidan, farmasi, apoteker, dan tenaga gizi juga telah ada di seluruh RSU&#13;
Pemerintah di Provinsi DI Yogyakarta. Analisis transfusi dan ortotis prostetis belum&#13;
dimiliki oleh semua RSU Pemerintah di D.I.Yogyakarta. Jenis tenaga kesehatan lainnya&#13;
masih berada di bawah rerata Nasional.&#13;
3. Sarana Penunjang. Di Provinsi D.I.Yogyakarta, RSU Pemerintah yang memiliki&#13;
ketersediaan listrik 24 jam sebesar 100,0% (di atas rerata nasional). Seluruh RSU&#13;
Pemerintah di DIY juga telah memiliki generator listrik (100,0%). Terdapat 80,0% RSU&#13;
Pemerintah yang mempunyai UPS.&#13;
Hasil Rifaskes menunjukkan dalam hal ketersediaan fasilitas internet dan telepon RSU&#13;
Pemerintah di Provinsi D.I.Yogyakarta, terdapat 90,0% RSU Pemerintah telah memiliki&#13;
fasilitas internet dan seluruhnya telah memiliki sarana telepon&#13;
Di Provinsi D.I.Yogyakarta, seluruh RSU Pemerintah telah memiliki ambulan dan mobil&#13;
jenazah. Berdasarkan hal tersebut, kepemilikan ambulan dan mobil jenazah RSU&#13;
Pemerintah di Provinsi D.I.Yogyakarta lebih tinggi dari rerata Nasional.&#13;
Secara umum terdapat 2.101 tempat tidur RSU Pemerintah di Provinsi D.I.Yogyakarta,&#13;
dengan jumlah tempat tidur kelas 3 sebanyak 900 buah (42,8%) dari keseluruhan&#13;
jumlah tempat tidur RSU Pemerintah di Provinsi D.I.Yogyakarta.&#13;
4. Klinik Rawat Jalan. Hampir sama dengan gambaran Nasional, di Provinsi D.I.Yogyakarta,&#13;
ketersediaan ruang klinik umum, kebidanan dan kandungan, anak, penyakit dalam,&#13;
bedah dan gigi mulut yang terbanyak (100%) ditemukan di RSU Pemerintah. Diikuti&#13;
Klinik mata, THT dan saraf (masing-masing 90,0%), berada di atas rerata Nasional.&#13;
Keberadaan semua klinik pelayanan medik spesialistik dasar (klinik spesialistik&#13;
kebidanan dan kandungan, penyakit dalam, bedah, dan kesehatan anak) telah tersedia&#13;
di seluruh RSU Pemerintah di Provinsi DI Yogyakarta. Klinik spesialistik mata tersedia di&#13;
90,0% RSU Pemerintah. Klinik ortopedi baru terdapat di sekitar 30,0% RSU Pemerintah&#13;
di Provinsi D.I.Yogyakarta.&#13;
Ketersediaan klinik syaraf ditemukan di 90,0% RSU Pemerintah Provinsi D.I.Yogyakarta,&#13;
lebih tinggi dari keberadaan klinik kulit dan kelamin. Klinik VCT baru tersedia di 10,0%&#13;
dari seluruh RSU Pemerintah di D.I.Yogyakarta.&#13;
5. Pelayanan RSU Pemerintah. Seluruh RSU Pemerintah di Provinsi DI Yogyakarta memiliki&#13;
pelayanan Unit Rawat Darurat, laboratorium patologi klinik, radiologi, farmasi, instalasi&#13;
gizi, pelayanan rehabilitasi medik, unit rekam medis, dan pelayanan binatu. Sekitar&#13;
90 % memiliki pelayanan bedah, 90,0% memiliki pelayanan perinatal/neonatal, 70,0%&#13;
perawatan intensif, 20,0% memiliki Unit Penyediaan Darah, 2 (dua) RSU Pemerintah&#13;
mempunyai pelayanan sterilisasi sentral, 90,0% memiliki pelayanan pemulasaraan&#13;
jenazah, dan 80,0% memiliki unit pengelola limbah.&#13;
6. Pemeriksaan Tuberkulosa. RSU Pemerintah di Provinsi D.I.Yogyakarta menunjukkan&#13;
cakupan yang lebih baik (90,0%) dalam pelayanan penegakkan diagnosis Tb melalui&#13;
pemeriksaan mikroskopis dan penegakkan diagnosis Tb pada anak melalui sistem skoring Tb (100,0%) dibanding rerata Nasional. Sekitar 90% RSU Pemerintah&#13;
D.I.Yogyakarta memiliki pencatatan dan pelaporan Tb. Seluruh Laboratorium Patologi&#13;
Klinik RSU Pemerintah di Provinsi D.I.Yogyakarta dan ikut dalam program DOTS,&#13;
memiliki tenaga yang sudah dilatih untuk pemeriksaan sputum BTA, dan melakukan&#13;
pemeriksaan sputum BTA..&#13;
7. HIV AIDS. Khusus untuk Provinsi D.I.Yogyakarta, sekitar 50,0% Laboratorium RSU&#13;
Pemerintah melakukan pemeriksaan Anti HIV, 100% menggunaan metoda Rapid Test&#13;
dan 20,0% menggunakan Elisa Otomatik.&#13;
8. Pelayanan Obstetri Neonatal dan Emergensi Komprehensif (PONEK). Secara umum,&#13;
proporsi pemenuhan kriteria PONEK RSU Pemerintah di Provinsi D.I.Yogyakarta di atas&#13;
angka Nasional, hal ini berlaku untuk hampir seluruh kriteria yang telah ditetapkan.&#13;
Proporsi pemenuhan kriteria PONEK oleh RSU Pemerintah di Provinsi D.I.Yogyakarta&#13;
berkisar antara 33,3%  (Kriteria waktu tanggap pelayanan darah ≤ 1 jam) sampai 77,8%&#13;
(Kriteria tim siap operasi 24 jam meskipun on call).&#13;
9. Rumah Sakit Sayang Bayi. Terdapat 10 langkah menuju keberhasilan menyusui yang&#13;
menjadi indikator Rumah Sakit Sayang Bayi (Baby Friendly Hospital) yang dinilai dalam&#13;
Rifaskes; kebijakan tertulis mengenai penggunaan ASI eksklusif, pelatihan untuk&#13;
mendukung penggunaan ASI eksklusif, catatan ibu hamil berdiskusi mengenai ASI dan&#13;
manajemen laktasi, bayi setelah dilahirkan sesegera mungkin kontak dengan ibu, ibu&#13;
dibimbing melakukan Inisiasi Menyusu Dini, bimbingan kepada Ibu mengenai cara&#13;
menyusui, bayi diberi makanan lain selain ASI, kebijakan rawat gabung, menyusui bayi&#13;
kapanpun bayi lapar, serta keberadaan klinik laktasi.&#13;
Secara umum, RSU Pemerintah di Provinsi D.I.Yogyakarta sudah memberikan perhatian&#13;
yang cukup baik dalam hal kontak sesegera mungkin antara ibu dan bayi, bimbingan&#13;
inisiasi menyusu dini (IMD), bimbingan cara menyusui, dan menyusui on demand&#13;
(100,0%). Masih terdapat sekitar 30,0% RSU Pemerintah yang memberikan makanan&#13;
lain selain ASI. Hanya 30,0% RSU Pemerintah memiliki catatan diskusi ibu hamil&#13;
berdiskusi mengenai ASI dan manajemen laktasi.&#13;
10. Promosi Kesehatan di Rumah Sakit. Di D.I.Yogyakarta, terdapat 8 RSU Pemerintah&#13;
(80,0%) yang memiliki kebijakan tertulis mengenai kegiatan promosi kesehatan di RS.&#13;
RSU Pemerintah di D.I.Yogyakarta yang memiliki unit khusus yang mengelola dan&#13;
menyelenggarakan kegiatan promosi kesehatan sebesar 70,0%. Anggaran untuk&#13;
kegiatan promosi kesehatan di RSU Pemerintah DI Yogyakarta dialokasikan oleh 80%&#13;
RSU Pemerintah. Penyuluhan kelompok baru dilakukan oleh 80,0% RSU Pemerintah di&#13;
D.I.Yogyakarta. Pemasangan spanduk, banner, dan atau poster mengenai informasi&#13;
kesehatan dilakukan oleh seluruh RSU Pemerintah di Provinsi D.I.Yogyakarta.&#13;
Pembinaan puskesmas hanya dilakukan oleh 3 dari 10 RSU Pemerintah di Provinsi&#13;
D.I.Yogyakarta.Kesimpulan&#13;
1. Masih terdapat RSU Pemerintah yang belum menjalankan pelayanan yang diharuskan,&#13;
misalnya memiliki pelayanan bedah, perinatal, pemulasaraan jenazah, dan unit&#13;
pengelola limbah.&#13;
2. Masih banyak RSU yang belum memiliki kesesuaian antara standar yang ditetapkan di&#13;
dalam masing-masing kelas RS dengan kondisi yang dimiliki, baik dalam hal ketenagaan&#13;
dan peralatan yang dibutuhkan untuk setiap pelayanan RS.&#13;
3. Masih terdapat RSU Pemerintah yang belum memiliki kemampuan optimal di dalam&#13;
menunjang pencapaian indikator Millenium Development Goals, misalnya dalam hal&#13;
penanganan Tuberkulosis dan HIV-AIDS.&#13;
4. Kemampuan RSU Pemerintah dalam menghadapi kasus-kasus emergensi kebidanan&#13;
dan kandungan, serta neonatal masih lemah, hal ini terlihat dari masih banyaknya RSU&#13;
Pemerintah yang belum mampu memenuhi Kriteria Umum RS PONEK.&#13;
5. Perhatian RSU Pemerintah terhadap kegiatan promosi kesehatan di RS masih belum&#13;
optimal. Kurangnya perhatian RSU Pemerintah terhadap kegiatan promosi kesehatan di&#13;
RS juga tercermin dari banyaknya rumah sakit yang belum memiliki peralatan standar&#13;
promosi kesehatan di rumah sakit dan minimnya kegiatan promosi kesehatan di RS.&#13;
Saran&#13;
1. Perlu dilakukan identifikasi terhadap kesesuaian kelas RSU Pemerintah dengan&#13;
kemampuan dan kondisi sebenarnya yang dimiliki oleh RSU Pemerintah. Kesesuaian&#13;
kelas mengacu pada persyaratan Permenkes Nomor 340 Tahun 2010 tentang Klasifikasi&#13;
Rumah Sakit&#13;
2. Pemerintah perlu memperhatikan keberadaan dan distribusi SDM kesehatan yang&#13;
dibutuhkan oleh RSU pemerintah, khususnya empat jenis dokter spesialis pelayanan&#13;
medik spesialistik dasar.&#13;
3. Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan pemilik RSU Pemerintah lainnya, seperti&#13;
TNI/Polri, BUMN, Kementerian dalam Negeri, dan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota,&#13;
untuk bersama-sama melakukan upaya untuk dapat memenuhi standar RS yang telah&#13;
ditetapkan. Kerjasama juga dilakukan untuk mengurangi kesenjangan baik antara RSU&#13;
yang berbeda kepemilikan maupun antara kondisi geografis.&#13;
4. Dipertimbangkan untuk pengembangan konsep rujukan regional dengan memperkuat&#13;
keberadaan, sebaran, dan kemampuan pelayanan perawatan intensif tersier (NICU,&#13;
PICU, dan CICU/ICCU) pada sarana pelayanan kesehatan rujukan yang terpilih.&#13;
5. Perlu penguatan kemampuan RSU Pemerintah di dalam Pelayanan Obstetri Neonatal&#13;
Emergensi Komprehensif (PONEK). Kemampuan RSU Pemerintah dalam menangani&#13;
kasus-kasus kegawatdaruratan pada Ibu dan bayi membutuhkan keberadaan dan&#13;
kelengkapan pelayanan serta keterampilan petugas yang memenuhi kriteria sebagai RS&#13;
PONEK.&#13;
6. Masih banyak RSU Pemerintah yang belum memenuhi kriteria 10 langkah keberhasilan&#13;
menyusui. Perlu upaya untuk meningkatkan pemahaman petugas mengenai ASI Eksklusif&#13;
dan Inisiasi Menyusui Dini, serta kemampuan melakukan persuasi kepada ibu dan&#13;
keluarga. Selain itu, peningkatan keberadaan klinik laktasi di RSU Pemerintah hendaknya&#13;
menjadi perhatian dari pengelola RSU Pemerintah&#13;
7. Perhatian pengelola RSU Pemerintah terhadap kegiatan-kegiatan promosi kesehatan di&#13;
RS, perlu ditingkatkan terkait dengan kedudukan RS sebagai institusi pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan perorangan paripurna (promotif,&#13;
preventif, kuratif, dan rehabilitatif).</dc:description>
        <dc:publisher>Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan</dc:publisher>
        <dc:date>2012</dc:date>
        <dc:type>Monograph</dc:type>
        <dc:type>NonPeerReviewed</dc:type>
        <dc:format>text</dc:format>
        <dc:language>en</dc:language>
        <dc:identifier>http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/4463/1/LAPORAN%20RSU%20RIFASKES%20YOGYAKARTA.pdf</dc:identifier>
        <dc:identifier>  Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, -  (2012) LAPORAN PROVINSI DI YOGYAKARTA RIFASKES 2011 RUMAH SAKIT UMUM PEMERINTAH.  Project Report. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta.     </dc:identifier>
        <dc:relation>WX IND 2012</dc:relation>
        <dc:identifier>WX IND 2012</dc:identifier></oai_dc:dc>
        </didl:Resource>
      </didl:Component>
    </didl:Item>
    <didl:Item>
      <didl:Descriptor>
        <didl:Statement mimeType="application/xml">
          <dip:ObjectType>info:eu-repo/semantics/objectFile</dip:ObjectType>
        </didl:Statement>
      </didl:Descriptor>
      <didl:Component>
        <didl:Resource mimeType="text" ref="http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/4463/1/LAPORAN%20RSU%20RIFASKES%20YOGYAKARTA.pdf"/>
      </didl:Component>
    </didl:Item>
    <didl:Item>
      <didl:Descriptor>
        <didl:Statement mimeType="application/xml">
          <dip:ObjectType>info:eu-repo/semantics/humanStartPage</dip:ObjectType>
        </didl:Statement>
      </didl:Descriptor>
      <didl:Component>
        <didl:Resource mimeType="application/html" ref="http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/4463/"/>
      </didl:Component>
    </didl:Item>
  </didl:Item>
</didl:DIDL>