<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Komposisi Zat Gizi Makro Dan Rasio Protein Hewani Dan Nabati Pada Masyarakat Indonesia</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Almasyhuri</mods:namePart><mods:namePart type="family">Almasyhuri</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Agus</mods:namePart><mods:namePart type="family">Triwinarto</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Dewi</mods:namePart><mods:namePart type="family">Permaesi</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Latar Belakang. Prevalensi kependekan pada balita hasil Riskesdas 2010 secara nasional masih tinggi 35.6%. Sebagian besar (17) propinsi memiliki prevalensi balita pendek berkisar 30-39.9%, 7 propinsi di atas 40%, sembilan propinsi memiliki prevalensi 20-29.9% dan belum ada propinsi yang mencapai prevalensi dibawah 20%. Status gizi erat kaitannya dengan konsumsi zat gizi, pengasuhan, sosial ekonomi keluarga.       Tujuan Mendapatkan data profil konsumsi zat gizi anak balita pada daerah status gizi pendek tinggi, sedang dan rendah.       Metode Analisis data ini menggunakan data Riskesdas 2010. Populasi penelitian ini adalah seluruh Balita umur 6-59 bulan. Sampel penelitian ini adalah balita yang mempunyai BB, TB dan umur lengkap serta mempunyai data kosumsi. Pengolahan data menggunakan SPSS 15.      Hasil. Rerata konsumsi energi pada kelompok umur 7-12 bulan dimasing-masing prevalensi menunjukan rerata konsumi energi dan protein lebih rendah pada daerah prevalensi sedang, sedangkan rerata konsumsi lemak dan karbohidrat lebih rendah pada daerah prevelensi tinggi, sebaliknya konsumsi energi pada kelompok umur 13-47 bulan dimasing-masing prevelensi menunjukan rerata konsumsi energi lebih rendah pada daerah prevalensi tinggi, rerata konsumsi protein, sedangkan rerata konsumsi lemak dan karbohidrat lebih rendah pada daerah prevalensi tinggi. Daging umumnya belum diberikan kepada balita usia 7-12 bulan. Persentase energi yang dikonsumsi balita pada setiap ke1ompok umur semakin rendah sesuai dengan meningkatnya prevalensi balita pendek. Begitu juga protein yang dikonsumsi balita semakin rendah sesuai dengan meningkatnya prevalensi balita pendek.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">QU 145-220 Nutrition. Vitamins</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2010</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Monograph</mods:genre></mods:mods>