<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Penambahan Ciprofloksacin Intravena terhadap Ceftriakson sebagai Terapi Antibiotik Empiris pada Pasien Pneumonia Rawat Inap: Perbandingan Biaya dan Efektivitas</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Afifah</mods:namePart><mods:namePart type="family">Machlaurin</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Satibi</mods:namePart><mods:namePart type="family">Satibi</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Nanang</mods:namePart><mods:namePart type="family">Munif Yasin</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Salah satu tujuan penambahan terapi antibiotik dalam praktek klinis adalah untuk meningkatkan hasil&#13;
terapi. Namun hal tersebut dapat meningkatkan biaya perawatan. Tujuan dari penelitian ini adalah&#13;
untuk mengetahui apakah penambahan terapi antibiotik ciprofloksacin akan meningkatkan efektifitas&#13;
meskipun menambah biaya dibandingkan dengan monoterapi ceftriakson pada pasien pneumonia rawat&#13;
inap. Penelitian ini mengambil data pasien pneumonia secara retrospektif dan membaginya menjadi dua&#13;
kelompok; pertama, kelompok monoterapi ceftriakson (CTX); kedua, kelompok kombinasi ciprofloksacin&#13;
dan ceftriakson (CTXCP). Sejumlah 171 pasien pneumonia yang memenuhi kriteria, 106 pasien masuk&#13;
kelompok CTX dan 65 pasien masuk dalam kelompok CTXCP. Kedua kelompok memiliki karakteristik&#13;
yang sama dari segi jenis kelamin, usia, jenis pembayaran, dan penyakit komorbiditas. Hasil analisis&#13;
menunjukkan total biaya perawatan pada kelompok CTXCP lebih tinggi dari pada kelompok CTX (Rp.&#13;
12.120.000 vs Rp. 9.020.000, p=0,000). Perbandingan efektifitas menunjukkan lama rawat inap (length&#13;
of stay,LOS) dan lama pemberian antibiotik saat rawat inap (length of stay antibiotic related,LOSAR)&#13;
kelompok CTX lebih pendek dibandingkan CTXCP (11,32 vs 13,15 hari, p=0,14 and 9,26 vs 12,09&#13;
hari, p=0,000). Selain itu, tingkat keberhasilan terapi dan kegagalan antibiotik pertama (first line clinical&#13;
failure avoided,CFA) juga lebih bagus pada kelompok CTX (81,13% vs 66,15%, p=0,027 dan 71,79%&#13;
vs 44,62%, p=0,000). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan terapi ciprofloksacin sebagai terapi empiris pada pasien pneumonia rawat inap membutuhkan biaya yang lebih</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">QV Pharmacology</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2017-03</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Article</mods:genre></mods:mods>