<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sebagai Hambatan Pencarian Pengobatan: Studi Kasus pada Pecandu Narkoba Suntik di Jakarta</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Irfan</mods:namePart><mods:namePart type="family">Ardani</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Sri</mods:namePart><mods:namePart type="family">Handayani</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia mengalami kenaikan setiap tahunnya. Salah satu penyebab penularan HIV/AIDS adalah penggunaan jarum suntik tidak steril pada pecandu narkoba suntik (penasun). HIV dan AIDS masih dianggap penyakit yang tabu dibicarakan secara terbuka kepada&#13;
orang tua, masyarakat dan bahkan pelayanan kesehatan. Hal ini membuat ODHA dan keluarganya rentan terhadap stigma dan diskriminasi yang berakibat pada hambatan memperoleh perawatan dan pengobatan.&#13;
Penelitian dilakukan di Jakarta dengan metode wawancara dan observasi pada komunitas penasun. Sampel diambil secara purposif dengan kriteria penasun atau mantan penasun yang sudah terinfeksi HIV. Stigma memiliki dua jenis yaitu stigma yang berasal dari dalam diri sendiri dan yang berasal dari luar diri. Stigma dari dalam muncul dari rasa ketakutan dalam diri ODHA dan juga hasil dari internalisasi stigma dari luar. Stigma dari luar diterima ODHA penasun dalam bentuk diskriminasi, intimidasi dan pembiaran. Sebagai kesimpulan ODHA penasun yang merasa terstigma akan mengurangi kemungkinan untuk mencari bantuan, menunda pengobatan atau memilih mengakhiri pengobatan. Kepercayaan diri ODHA penasun untuk mengatasi masalah adiksi mereka juga akan berkurang akibat stigma yang mereka&#13;
dapat.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">WC Communicable Diseases</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2017-06</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Article</mods:genre></mods:mods>