<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Penggunaan Kontrasepsi pada Remaja Perempuan Kawin di Indonesia&#13;
(Analisis Riskesdas 2013)</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Anissa</mods:namePart><mods:namePart type="family">Rizkianti</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Nurillah</mods:namePart><mods:namePart type="family">Amaliah</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Rika</mods:namePart><mods:namePart type="family">Rachmalina</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Kehamilan remaja telah menjadi sorotan di berbagai belahan dunia, termasuk akses terhadap penggunaan&#13;
kontrasepsi pada remaja kawin. Studi ini merupakan analisis lanjut Riskesdas 2013 untuk mengetahui&#13;
penggunaan kontrasepsi pada remaja kawin di Indonesia. Data yang digunakan dalam analisis regresi&#13;
logistik multi level terdiri atas karakteristik demografi remaja, paritas, ketersediaan pelayanan kesehatan&#13;
serta penggunaan jaminan kesehatan. Subjek adalah seluruh remaja perempuan berusia 15-19 tahun&#13;
yang berstatus kawin dan aktif secara seksual. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 54,2% remaja&#13;
perempuanberstatus kawin maupun pasangannya menggunakan kontrasepsi. Berdasarkan analisis&#13;
multivariat, umur, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi dan penggunaan jaminan kesehatan memiliki&#13;
hubungan yang bermakna terhadap penggunaan kontrasepsi setelah dikontrol oleh variabel wilayah&#13;
tempat tinggal, paritas dan ketersediaan pelayanan kesehatan. Remaja perempuan dengan umur di atas 17&#13;
tahun (OR=1,49, 95% CI 1,25-1,79) serta memiliki status sosio-ekonomi yang semakin tinggi (ORkuintil&#13;
5=1,62, 95% CI 1,19-2,22) berpeluang lebih besar untuk menggunakan kontrasepsi, sedangkan remaja&#13;
perempuan dengan pendidikan SMA ke atas (OR=0,73; 95% CI 0,58-0,91) serta yang menggunakan&#13;
jaminan kesehatan (OR=0,72; 95% CI 0,60-0,86) justru memiliki probabilitas lebih kecil untuk memakai&#13;
alat/cara Keluarga Berencana (KB). Pemenuhan akses remaja terhadap kontrasepsi diharapkan tidak&#13;
hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan remaja melainkan juga peningkatan daya beli, salah&#13;
satunya melalui pemanfaatan jaminan kesehatan.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">WP Gynecology</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2017-12</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Article</mods:genre></mods:mods>