%D 2015 %P 97-104 %X Program pengendalian vektor DBD di Indonesia termasuk di Provinsi Sumatera Selatan telah cukup lama menggunakan malation dengan konsentrasi 5%. Penggunaan satu jenis insektisida kimiawi secara ekstensif dapat memicu perkembangan resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan status kerentanan Aedes aegypti terhadap malation dari 11 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan. Larva atau pupa dikumpulkan menggunakan alat survei entomologi dan selanjutnya dipelihara hingga mendapatkan generasi pertama (F1) yang akan digunakan pada uji kerentanan. Uji kerentanan mengacu kepada metode baku yang ditetapkan WHO. Sebanyak 25 ekor nyamuk dipaparkan terhadap insektisida pada 4 tabung uji dan 1 tabung kontrol. Strain Aedes aegypti yang berasal dari seluruh lokasi sampling menunjukkan masih rentan terhadap malation dosis 5% setelah paparan selama 1 jam. Angka estimated resistance ratio (ERR) dari knockdown time (KT) terhadap dosis operasional berkisar 1,02-1,27 untuk KT50 dan 0,96-1,24 untuk KT95. Uji kerentanan terhadap dosis diagnostik (0,8%) menunjukkan keragaman kerentanan setelah paparan selama 24 jam. Strain dari 7 kab/kota telah resisten, 3 kab/kota berstatus toleran dan 1 kabupaten masih rentan. Deteksi resistensi dapat menjadi acuan untuk menentukan tindakan yang efektif dalam mengatasi menurunnya efektivitas pengendalian vektor. %J Buletin Penelitian Kesehatan %T Tingkat Kerentanan Aedes aegypti (Linn.) terhadap Malation di Provinsi Sumatera Selatan %K Aedes aegypti, Malathion, Susceptibility, South Sumatera %V 43 %N 2 %L bkpkkemkes5727 %A Lasbudi P. Ambarita %A Yulian Taviv, %A Anif Budiyanto, %A Hotni Sito %I Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan %R DOI: 10.22435/bpk.v43i2.4143.97-104