<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>PEMERIKSAAN LABORATORIUM PADA PENDERITA DEMAM BERDARAH&#13;
DENGUE</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Purwanto</mods:namePart><mods:namePart type="family">Purwanto</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Diagnosis penderita demam berdarah&#13;
dilakukan dengan cara anamnesis penderita,&#13;
baik secara autoanamnesis atau allo&#13;
anarnnesis. Kemudian, dilanjutkan dengan&#13;
pemeriksaan fisik dan dipertegas dengan&#13;
pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan&#13;
laboratorium mempunyai peranan yang&#13;
penting dalam diagnosis penderita demam&#13;
berdarah dengue. Namun, diagnosis pasti&#13;
belumlah dapat ditegakkan mengingat tanda&#13;
patognomonik baru dapat ditentukan dengan&#13;
ditemukannya virus dengue pada penderita&#13;
demam berdarah. Namun, pemeriksaan&#13;
laboratorium lain dengan akurasi dan presisi&#13;
tinggi dapat menunjang diagnosis penyakit.&#13;
(Sumarmo SPS, 1983). Pemeriksaan&#13;
laboratorium standar yang diajukan oleh WHO (1997) yang diadaptasi oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia&#13;
untuk DBD adalah Trombositopeni dan Uji torniquet (Thomas Suroso dkk, 2000). Tulisan berikut akan menguraikan pemerik­saan laboratorium yang lazim dilakukan, selain pemeriksaan standar WHO pada penderita demam berdarah dengue.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">WC 1-100 Reference Works. General Works</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2002</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Article</mods:genre></mods:mods>