<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>SICKBUILDING SYNDROME, BUILDING RELATED ILLNESS DAN LEGIONELLOSIS : PENYAKIT AKIBAT LINGKUNGAN TEMPAT KERJA YANG KURANG MENDUKUNG</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Faisal</mods:namePart><mods:namePart type="family">Yatim</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penyakit yang diakibatkan lingkungan ruang kerja dibagi 2 kriteria : sick building syndrome (SBS) atau sindrom penderita sick building sindrom (SBS). Gejala gejala penyakit akibat lingkungan kerja yang kurang mendukung, adalah sindrom gedung sakit, yang belakangan ini banyak di publikasi dan menarik perhatian para pemerhati kesehatan. Sindrom ini meliputi berbagai gejala sakit pada para pekerja yang berada di satu bangunan. Yang dikaitkan dengan kondisi lingkungan perkantoran yang kurang mendukung, seperti polusi udara ruang kerja, ukuran meja dan kursi yang kurang sesuai, ventilasi udara yang tidak sehat, atau udara ruangan kerja terlalu panas atau terlalu lembab.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">WD 600-670 Disorders and Injuries of Environmental Origin</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2002</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Article</mods:genre></mods:mods>