<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>HISTOLOGI DORSAL HORN DARI SPINAL CORD MENCIT YANG MENGALAMI&#13;
NYERI INFLAMASI AKIBAT INDUKSI CFA (COMPLETED FREUD’S ADJUVANT)&#13;
SETELAH PEMBERIAN GABAPENTIN DAN BACLOFEN</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Fifteen</mods:namePart><mods:namePart type="family">Aprila Fajrin</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Junaidi</mods:namePart><mods:namePart type="family">Khotib</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Imam</mods:namePart><mods:namePart type="family">Susilo</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Nyeri merupakan pengalaman yang multidimensional. Umumnya kebanyakan penyakit kronik selalu disertai dengan nyeri. Nyeri kronik dapat disebabkan oleh inflamasi maupun neuropati dengan patofisiologi yang berhubungan dengan&#13;
aktivitas reseptor N-methyl-D-aspartate (NMDA) subunit 2B (NR2B). Sampai&#13;
saat ini pengobatan nyeri kronik menjadi tantangan. Obat yang bekerja sebagai&#13;
agonis GABA seperti gabapentin dan baclofen dilaporkan mempunyai peranan&#13;
penting dalam penghambatan proses nyeri. Penelitian ini dilakukan untuk&#13;
mengetahui pengaruh pemberian gabapentin dan baclofen terhadap histologi&#13;
dorsal horn pada keadaan nyeri kronik akibat inflamasi. Hal ini bertujuan untuk&#13;
menjelaskan bagaimana gabapentin dan baclofen dapat digunakan sebagai terapi&#13;
pada nyeri kronik. Empat puluh mencit dibagi menjadi delapan kelompok, yaitu&#13;
sham, kontrol negatif, gabapentin dosis 10, 30 dan 100 nmol/mencit serta&#13;
baclofen dosis 1, 10 dan 30 nmol/mencit. keadaan inflamasi diinduksi oleh injeksi&#13;
intraplantar CFA (Completed Freud's Adjuvants). Gabapentin dan baclofen&#13;
diberikan secara intratekal sehari sekali selama tujuh hari, pada hari ketujuh&#13;
setelah induksi CFA. Waktu ketahanan terhadap stimulus panas diukur&#13;
menggunakan hot/cold plate pada hari ke-0, 1, 3, 5, 7, 8, 10, 12 dan 14 setelah&#13;
induksi. Tebal plantar diukur pada hari ke-0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 12 dan 14&#13;
setelah induksi. Respon nyeri diamati secara visual seperti mendekatkan kedua&#13;
tungkai kaki ke depan, menjilat tungkai kaki ke depan, gerakan meliuk, berusaha&#13;
melompat keluar hot/cold plate,dan menghentakkan tungkai belakang. Histologi&#13;
bagian dorsal horn dari spinal cord diamati menggunakan pewarnaan haematoxyllin-&#13;
eosin. Pemberian gabapentin dan baclofen meningkatkan waktu ketahanan terhadap stimulus panas secara signifikan dibandingkan kontrol. Secara histologi, pemberian gabapentin dan baclofen menurunkan sel inflamatori, menurunkan &#13;
 asodilatasi dan meningkatkan bentukan neuron pada dorsal horn dari spinal cord dibandingkan dengan kontrol. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian gabapentin dan baclofen meningkatkan waktu ketahanan terhadap stimulus panas&#13;
serta memperbaiki histologi dorsal horn dari spinal cord mencit dengan nyeri inflamasi setelah induksi CFA.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">QW Microbiology. Immunology</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2013-12</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Article</mods:genre></mods:mods>