<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BERWAWASAN KESEHATAN</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Sri Soewasti</mods:namePart><mods:namePart type="family">Soesanto</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Sri</mods:namePart><mods:namePart type="family">Irianti</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Syarat tekanan air yang cukup yaitu minimum 1 sampai pada konsumen, tentu hanya berlaku untuk air yang dialirkan melalui perpipaan. Hal ini untuk mencegah masuknya cemaran melalui sambungan pipa yang mungkin kurang rapat. Tekanan air sebesar 1 atmosfir secara sederhana dapat dilihat dari ketinggian semburan air bila pipa dilubangi pada dingdingnya harus mencapai tinggi 10m. Pengelolaan sumber daya air yang sering dibahas biasanya yang berwawasan lingkungan. Meskipun perhatian terhadap lingkungan juga sering menyentuh aspek kesehatan, namun kurang mendalam. Tulisan rnencoba lebih menekankan pada aspek kesehatan agar menjadi perhatian sektor lain yang bertanggung jawab melaksanakan pembangunan fisik yang ada kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">SH Aquaculture. Fisheries. Angling</mods:classification><mods:classification authority="lcc">WA 400-495 Occupational Medicine, Health, and Hygiene</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2001</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Article</mods:genre></mods:mods>