<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>MASALAH NARKOTIKA DAN HIV/AIDS DI KALANGAN REMAJA</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Yulfira</mods:namePart><mods:namePart type="family">Media</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Hasil penelitian Dadang Hawari menunjukkan bahwa usia yang paling rentan terkena narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba) adalah antara 15-25 tahun, sebagian besar pada laki -laki. Hal ini juga terungkap dalam hasil penelitian Lembaga Swadaya Masyarakat Solidaritas Moral Anti Narkoba (Smart) bahwa sekitar 74,64 o/o dari pengguna narkotika, ganja shabu-shabu, putaw dan ecstacy di Bandung berjenis kelamin laki­-laki dengan rincian berusia antara 15 -17 tahun (52 75 %) usia 17 -19 tahun (45,1%), dan di atas 19 tahun 2, 15 %. Sementara itu, hal yang paling mengkhawatirkan adalah kemungkinan melonjaknya infeksi HIV/AIDS di kalangan pecandu narkotika. Misalnya, dari jumlah pecandu narkotika sekitar 100.000 -120.000 di Jakarta, sebagian besar (75 %) memakainya melalui suntikan.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">WC 140-185 Sexually Transmitted Diseases</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2001</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Article</mods:genre></mods:mods>