%0 Conference Paper %9 Other %A Wasir, Riswandy %A Sulistiadi, Wahyu %B SiBijaKs Awards 2024 %C Jakarta %D 2024 %F bkpkkemkes:5921 %I BADAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KESEHATAN %K sibijaks awards 2024 %T Mengurangi Penggunaan Antimikroba Tanpa Resep Dokter: Strategi Pemberdayaan MasyarakatUntuk Menangani Resistensi Antimikroba di Indonesia (Policy Brief Sibijaks Awards 2024) %U http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/5921/ %X Resistensi antimikroba (AMR) merupakan ancaman kesehatan global yang serius, yang mengancam kemampuan medis dalam mengobati infeksi. Di Indonesia, sekitar 9% masyarakat memperoleh antibiotik tanpa resep dokter, terutama di daerah pedesaan dengan akses terbatas ke layanan kesehatan. Faktor-faktor seperti kurangnya pengetahuan masyarakat, ketersediaan antibiotik tanpa pengawasan ketat, dan lemahnya penegakan regulasi memperparah masalah ini, yang meningkatkan risiko berkembangnya bakteri resisten. Untuk mengatasi masalah ini, rekomendasi strategis meliputi peningkatan kesadaran publik melalui kampanye edukasi yang berkelanjutan, penguatan peran dokter dan apoteker dalam memastikan kepatuhan terhadap regulasi, serta peningkatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap penjualan antibiotik tanpa resep. Pemanfaatan teknologi seperti Whole Genome Sequencing (WGS) dan kolaborasi lintas sektor diusulkan untuk memantau AMR dan mendukung intervensi kesehatan berbasis data. Penguatan surveilans juga penting untuk memantau efektivitas kampanye dan menyesuaikan kebijakan secara responsif. Dengan implementasi rekomendasi ini, yang didukung oleh pengalaman dari negara seperti Swedia dan Belanda, Indonesia diharapkan dapat mengurangi penggunaan antibiotic tanpa resep, menekan penyebaran AMR, dan meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.