<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Gizi Optimal menuju Generasi Gemilang: Strategi Penguatan dan Penambahan Tenaga Gizi dalam Menghapus Stunting (Policy Brief Sibijaks Awards 2024)</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">ALIF MUHAMMAD</mods:namePart><mods:namePart type="family">SUDARMANTO</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Muhammad Naufal Putra</mods:namePart><mods:namePart type="family">Abadi</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Latar Belakang: Angka nasional stunting tahun 2023 berada 7,5% di bawah target tahun 2024, yakni 14%, dengan 34 provinsi tidak mencapai target. Kehadiran tenaga gizi menjadi kunci esensial dalam penurunan angka stunting yang belum dikelola optimal. Deskripsi Masalah: Uji korelasi hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 dan Riset Kesehatan Dasar 2018 dengan data Badan Pusat Statistik menemukan bahwa Tingkat pertumbuhan persentase stunting per tahunnya berkorelasi dengan rasio tenaga gizi terhadap populasi (r=0,625, p=0,000). Korelasi antara rerata persentase stunting terhadap lima poin pengetahuan stunting (r&gt;0,337, p&lt;0,036) dan keikutsertaan antenatal care keempat (r=-0,712, p=0,000) berkaitan dengan peran tenaga gizi, sedangkan terhadap Indeks Pembangunan Manusia (r=-0,616, p=0,000) dan rerata pengeluaran kesehatan tiap rumah tangga per bulan (r=-0,570, p=0,000) berkaitan dengan faktor sosioekonomi yang mempengaruhi stunting.&#13;
Rekomendasi: Pembentukan rekomendasi penanganan stunting mempertimbangkan tiga aspek: pengelolaan sumber daya tenaga gizi, pendekatan kesehatan, dan prioritas berbasis kelayakan serta dampak. Pertimbangan tersebut melahirkan tiga rekomendasi. Pertama, memaksimalkan peran tenaga gizi melalui program edukasi dengan memberdayakan kader kesehatan dan mengembangkan kurikulum gizi untuk ibu calon pengantin, ibu hamil, dan ibu dengan balita; melakukan kolaborasi interprofesi di fasilitas kesehatan untuk meningkatkan cakupan antenatal care terkait intervensi gizi; dan memperjelas ranah kerja nutrisionis, dietisien, dan dokter spesialis gizi klinis. Kedua, menambah jumlah tenaga gizi melalui koordinasi dengan perguruan tinggi dan pemberian insentif tenaga gizi. Ketiga, melakukan koordinasi antar kementerian untuk menangani faktor lain terkait stunting, termasuk merencanakan pendanaan bagi kader kesehatan.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">WA 1-106 Reference Works. General Works</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2024</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>BADAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KESEHATAN</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Conference or Workshop Item</mods:genre></mods:mods>