<mets:mets OBJID="eprint_6047" LABEL="Eprints Item" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/METS/ http://www.loc.gov/standards/mets/mets.xsd http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mets="http://www.loc.gov/METS/" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mets:metsHdr CREATEDATE="2026-07-06T15:45:12Z"><mets:agent ROLE="CUSTODIAN" TYPE="ORGANIZATION"><mets:name>Repositori BKPK</mets:name></mets:agent></mets:metsHdr><mets:dmdSec ID="DMD_eprint_6047_mods"><mets:mdWrap MDTYPE="MODS"><mets:xmlData><mods:titleInfo><mods:title>Rekognisi Institusi Pendidikan Kedokteran Luar Negeri: Relevansi dan Implikasi untuk Percepatan Pendayagunaan SDM Kesehatan Lulusan Luar Negeri (Policy Brief 2024)</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Devi</mods:namePart><mods:namePart type="family">Senja</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Pendayagunaan dokter spesialis di Indonesia menjadi isu penting dalam upaya meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan nasional. Saat ini, kekurangan dokter spesialis masih menjadi tantangan besar, terutama dengan rasio dokter di Indonesia hanya 0,47 dokter per 1.000 penduduk, jauh di bawah standar minimal WHO sebesar 1 dokter per 1.000 penduduk. Ketersediaan dokter spesialis dan subspesialis pun masih sangat minim. Masalah ini diperparah dengan distribusi dokter dan dokter spesialis serta sub spesialis yang tidak merata, di mana sebagian besar tenaga dokter terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara daerah-daerah terpencil dan tertinggal mengalami keterbatasan layanan medis. Kondisi ini berdampak pada akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas dan diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2032 jika tidak ada langkah nyata yang diambil. Peningkatan kebutuhan dokter spesialis yang tidak seimbang dengan ketersediaan tenaga medis semakin menegaskan urgensi perbaikan kebijakan di sektor ini.  &#13;
Salah satu solusi yang dapat diimplementasikan adalah rekognisi dokter spesialis Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing (WNA) lulusan luar negeri secara lebih cepat dan efisien. Berdasarkan PP Nomor 28 Tahun 2024, dokter dan dokter spesialis lulusan luar negeri diwajibkan untuk mengikuti uji kompetensi sebelum dapat berpraktik di Indonesia. Namun, terdapat pengecualian bagi WNI lulusan institusi pendidikan luar negeri yang telah diakui dan memiliki pengalaman praktik minimal 2 tahun di luar negeri atau WNA (khusus dokter spesialis dan subspesialis) yang telah praktik 5 tahun di luar negeri. Hal ini bertujuan untuk segera mengintegrasikan dokter dan dokter spesialis serta sub spesialis berkualitas ke dalam sistem pelayanan kesehatan Indonesia. Kebijakan yang dapat diusulkan adalah pengakuan institusi pendidikan luar negeri mengacu pada Kriteria dan Daftar Institusi dalam Skema Beasiswa (Seperti LPDP) dan pemerintah dapat juga mengadopsi tahap, kriteria, dan daftar perguruan tinggi luar negeri yang di rekognisi benchmarking pada regulasi di negara Singapura dan Malaysia. Selanjutnya, perlu pembentukan regulasi yang jelas dan komprehensif yang akan memberikan dasar hukum penguatan peran Kolegium untuk bersama Kementerian Kesehatan melakukan pengawasan dan evaluasi yang berkelanjutan untuk menjaga standar pelayanan kesehatan di Indonesia.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">WA Public Health</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2024</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Other</mods:genre></mets:xmlData></mets:mdWrap></mets:dmdSec><mets:amdSec ID="TMD_eprint_6047"><mets:rightsMD ID="rights_eprint_6047_mods"><mets:mdWrap MDTYPE="MODS"><mets:xmlData><mods:useAndReproduction>
<p xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml"><strong>For work being deposited by its own author:</strong>
In self-archiving this collection of files and associated bibliographic
metadata, I grant Repositori BKPK the right to store
them and to make them permanently available publicly for free on-line.
I declare that this material is my own intellectual property and I
understand that Repositori BKPK does not assume any
responsibility if there is any breach of copyright in distributing these
files or metadata. (All authors are urged to prominently assert their
copyright on the title page of their work.)</p>

<p xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml"><strong>For work being deposited by someone other than its
author:</strong> I hereby declare that the collection of files and
associated bibliographic metadata that I am archiving at
Repositori BKPK is in the public domain. If this is
not the case, I accept full responsibility for any breach of copyright
that distributing these files or metadata may entail.</p>

<p xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml">Clicking on the <em>Deposit Item Now</em> button indicates your agreement to these
terms.</p>
    </mods:useAndReproduction></mets:xmlData></mets:mdWrap></mets:rightsMD></mets:amdSec><mets:fileSec><mets:fileGrp USE="reference"><mets:file ID="eprint_6047_18008_1" SIZE="1136539" OWNERID="http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/6047/1/REVISI_DRAFT%20PB%20ADOPSI%20RECOGNISI%20INSTITUSI%20PENDIDIKAN%20LUAR%20NEGERI-%20%281%29.pdf" MIMETYPE="application/pdf"><mets:FLocat LOCTYPE="URL" xlink:type="simple" xlink:href="http://www.badankebijakan.kemkes.go.id/repositori/id/eprint/6047/1/REVISI_DRAFT%20PB%20ADOPSI%20RECOGNISI%20INSTITUSI%20PENDIDIKAN%20LUAR%20NEGERI-%20%281%29.pdf"></mets:FLocat></mets:file></mets:fileGrp></mets:fileSec><mets:structMap><mets:div DMDID="DMD_eprint_6047_mods" ADMID="TMD_eprint_6047"><mets:fptr FILEID="eprint_6047_document_18008_1"></mets:fptr></mets:div></mets:structMap></mets:mets>