Lima Fokus dalam Penanganan Penyakit Akibat Arbovirus

76

Denpasar – Kementerian Kesehatan Indonesia dan Kementerian Kesehatan Brazil menjadi penyelenggara International Arbovirus Summit 2024 di Bali yang berlangsung pada 22-23 April 2024. Kegiatan ini bertujuan untuk mengumpulkan para pembuat kebijakan, pakar kesehatan, dan peneliti arbovirus global dalam kesiapan menghadapi peningkatan kasus penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti nyamuk.

Dalam sambutannya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan perubahan iklim merupakan salah satu faktor yang memengaruhi penyebaran penyakit yang disebabkan oleh arbovirus. Menkes Budi menjelaskan falsafah masyarakat Bali, Tri Hita Karana yang bermakna harmonisasi hidup antara tiga unsur, yaitu Tuhan, manusia, dan alam. Harmonisasi dengan alam perlu dijaga sebagai upaya menurunkan penularan arbovirus.

Menkes Budi juga menerangkan belajar dari peristiwa pandemi COVID-19 yang sangat kompleks, maka harus dilakukan desain ulang sistem layanan kesehatan nasional secara terstruktur. Kementerian Kesehatan telah melakukan upaya transformasi tersebut melalui enam pilar transformasi yang berfokus pada upaya promotif dan preventif termasuk sistem pengawasan.

Baca Juga  Memastikan Regulasi Kesehatan Terstandar dan Bermanfaat Bagi Masyarakat

Lebih lanjut Menkes Budi menyampaikan, setidaknya ada lima hal yang menjadi fokus dalam penanganan penyakit menular. Pertama, mengajar, mendidik, melatih masyarakat untuk menghindari penyakit menular. Menurut Menkes Budi salah satu media edukasi yang sangat berpengaruh pada masa pandemi adalah media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk merubah perilaku dan pola hidup masyarakat.

Kedua, pengendalian vektor atau hewan pembawa penyakit. Salah satu contoh upaya pengendalian vektor yang telah berhasil dilakukan adalah penyebaran nyamuk ber-wolbachia untuk menurunkan penularan virus dengue. Salah satu program nyamuk ber-wolbachia yang berhasil dilaksanakan adalah di Yogyakarta.

“Wolbachia diterapkan di Yogyakarta sejak 15 tahun lalu. Saat ini angka kejadian DBD semakin meningkat di banyak kota, namun tidak di Yogya,” ungkap Menkes Budi.

Upaya ketiga yang disampaikan oleh Menkes Budi adalah pengawasan atau surveilans. Sistem pengawasan sangat bermanfaat untuk mengenali ancaman penyakit yang bisa menyerang di masa yang akan datang. Saat pandemi COVID-19, Indonesia belum memiliki laboratorium kesehatan masyarakat yang terstruktur. Laboratorium ini sangat membantu dalam proses pengawasan yang tepat berdasarkan data yang diperoleh selama proses skrining penyakit.

Baca Juga  Ujicoba Pengumpulan Data Lapangan SKI 2023

Keempat, melakukan penelitian, pengembangan, dan produksi vaksin. Berkaca dari kejadian COVID-19, Menkes Budi mengatakan bahwa vaksin, terutama vaksin mRNA, dapat dikembangkan lebih cepat menggunakan teknologi terkini. Para ilmuwan, bahkan di tingkat universitas, didorong agar dapat melakukan penelitian untuk menemukan vaksin untuk pencegahan penyakit menular. Adapun upaya kelima yaitu terapi atau pengobatan.

Menkes Budi berharap melalui pertemuan ini peserta dapat melakukan diskusi, kerjasama, dan belajar dari pengalaman satu sama lain. Senada dengan Menkes Budi, Menteri Kesehatan Brazil Nísia Trindade Lima menyatakan harapannya pada semua pihak untuk melakukan dialog yang produktif sehingga memungkinkan berbagai negara mencapai kemajuan dalam pengendalian arbovirus.

Brazil mengalami kemajuan yang signifikan dalam inovasi dan penelitian terkait vaksin demam berdarah. “Brasil menjadi negara pertama di dunia yang menawarkan vaksin demam berdarah dalam sistem kesehatan masyarakatnya. Vaksin yang merupakan hasil penelitian dan pengembangan selama bertahun-tahun ini menawarkan pendekatan baru untuk mencegah penyebaran demam berdarah dan dapat menjadi model bagi negara-negara lain yang terkena penyakit ini,” tutur Nisia.

Baca Juga  Lantik 64 ASN, Kepala BKPK Berpesan 3 Prinsip Penting

Menurut Nisia, diperlukan peningkatan perhatian semua negara di bidang kesehatan untuk memungkinkan perluasan akses terhadap teknologi pemberantasan penyakit, khususnya virus nyamuk demam berdarah.
Pertemuan ini juga dihadiri secara virtual oleh Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus. Tedros menyampaikan WHO telah membentuk inisiatif global arbovirus untuk memperkuat negara-negara dalam kesiapan pencegahan dan pengendalian arbovirus.

Menurut Tedros, penting untuk dilakukan sistem pengawasan yang terintegrasi, mengurangi kesenjangan kapasitas antar negara, sehingga diperlukan kerjasama dalam penelitian terkait arbovirus dan memprioritaskan kesehatan masyarakat. “Kemitraan berbagai negara ini sangat penting dalam upaya bersama untuk melindungi masyarakat dunia dari penyakit dan penderitaan yang diakibatkannya,” ujarnya. (Penulis: Sri Lestari/Edit Pusjak KGTK, Timker HDI)