
Laporan Analisis Media & Strategi Komunikasi Kemenkes RI (4–11 September 2026) mencatat 2.726 berita media massa dengan dominasi sentimen positif (89,0%) terkait respons bencana, serta 3.204 percakapan media sosial yang didominasi sentimen negatif (54,0%). Temuan utama menunjukkan bahwa krisis keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi isu dominan yang meluas secara geografis (Bengkulu, Karo, Pati, Rembang, Blora) dengan volume tertinggi mencapai 925 laporan. Kondisi ini menempatkan Pilar 3 (Ketahanan Kesehatan) sebagai pilar paling mendominasi dengan 3.419 volume pemberitaan (1.722 positif/campuran dan 1.697 negatif).
Pada evaluasi pilar transformasi lainnya, Budaya Kerja/Pengawasan mencatatkan sentimen negatif tinggi (142 dari 172 volume) dan Pilar 2 (Layanan Rujukan) mencatat 17 sentimen negatif akibat isu kronis kapasitas IGD RSUD Rantauprapat. Sebaliknya, Pilar 1 (Layanan Primer), Pilar 4 (Pembiayaan Kesehatan), dan Pilar 5 (SDM Kesehatan) cenderung didominasi sentimen positif/campuran, sedangkan Pilar 6 (Teknologi Kesehatan) tercatat nihil berita. Di media sosial, terjadi amplifikasi kritik tata kelola MBG (544 mentions) serta eskalasi kritik kepemimpinan (0 hingga 137 mentions) yang mengarah pada serangan personal terhadap latar belakang pendidikan dan kredibilitas Menkes.
Sebagai langkah perbaikan, dirumuskan tiga rekomendasi strategis komunikasi bagi Kemenkes RI. Pertama, menjalankan manajemen krisis narasi tunggal MBG untuk memperjelas batas kewenangan medis Kemenkes versus kewenangan pangan Badan Gizi Nasional (BGN) guna menghindari tumpang tindih tanggung jawab. Kedua, melakukan amplifikasi kontra-narasi berbasis prestasi dengan mempublikasikan skor survei kinerja menteri (skor 85) dan keberhasilan respons bencana. Ketiga, menyampaikan narasi proaktif penguatan kapasitas IGD secara nasional untuk merespons isu gawat darurat yang berulang di RSUD








