
Strategi transformasi kesehatan di negara kepulauan menuntut pergeseran dari keseragaman menuju evidence-based pragmatism. Kebijakan harus bersifat asimetris: mengadopsi standar global yang divalidasi melalui Riset Implementasi lokal agar efektif juga di wilayah 3T.
Direkomendasikan agar Analis Kebijakan bertransformasi menjadi Knowledge Broker dan Administrator Kesehatan sebagai penerjemah kultural. Sinergi ini memadukan presisi medis dengan adaptabilitas sosiologis—sistem digital untuk kota, pendekatan manual untuk area blank spot. Keadilan substantif tercapai saat intervensi kesehatan menghormati konteks geografis demi kedaulatan nasional, bukan sekadar memaksakan kesamaan prosedur.
Narasi & Desain: Nagiot Cansalony Tambunan (Analis Kebijakan Ahli Madya Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan, BKPK Kemenkes RI)









