web analytics
Header Ads
Beranda Blog Halaman 25

Cek Kesehatan Gratis: Kesehatan yang Lebih Baik untuk Semua

Penulis : Fachrudin Ali Ahmad

Mulai tahun ini, pemerintah memberikan kado istimewa kepada seluruh masyarakat Indonesia pada saat berulang tahun. Setiap penduduk yang berulang tahun dapat memeriksakan kesehatannya secara gratis di seluruh Puskesmas. Program inovatif berjudul Pemeriksaan atau Cek Kesehatan Gratis (CKG) ini bertujuan untuk mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan mereka melalui deteksi dini terhadap berbagai penyakit sehingga dapat mencegah dan menangani faktor risiko, mempermudah pengobatan serta mengurangi biaya perawatan kesehatan.

Pendaftaran untuk mengikuti CKG sangat mudah. Masyarakat dapat mendaftar melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile, yang dilengkapi dengan pengingat untuk setiap pengguna sebelum hari ulang tahun. Aplikasi ini dirancang dengan interface yang ramah pengguna, sehingga memudahkan semua kalangan untuk mengaksesnya. Bagi mereka yang tidak memiliki smartphone, pendaftaran manual di fasilitas kesehatan terdekat juga tersedia. Ini menunjukkan bahwa aksesibilitas adalah prioritas utama dalam program ini.

Saat melakukan pemeriksaan, layanan kesehatan yang diberikan disesuaikan dengan usia dan kondisi masing-masing individu. Misalnya, bayi yang baru lahir akan menjalani pemeriksaan untuk penyakit bawaan, sedangkan orang dewasa akan menjalani skrining untuk penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan kanker. Hal ini memastikan setiap individu mendapatkan perhatian yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.

Setelah pemeriksaan, hasilnya akan langsung tersedia dalam aplikasi SATUSEHAT Mobile, yang memungkinkan pengguna untuk mengakses informasi tersebut kapan saja dan di mana saja. Tak hanya itu, tersedia juga panduan interpretasi hasil pemeriksaan, yang menjelaskan langkah selanjutnya, baik itu perubahan gaya hidup atau rujukan ke dokter spesialis jika diperlukan. Ini adalah langkah signifikan untuk memberdayakan individu agar lebih memahami kondisi kesehatannya.
CKG terintegrasi dengan sistem kesehatan nasional, sehingga memudahkan pengelolaan data secara efisien. Pemantauan dan evaluasi bertujuan untuk memastikan bahwa program memberikan hasil yang diharapkan. Selain itu, untuk menjangkau lebih banyak masyarakat, pemerintah menerapkan berbagai strategi komunikasi yang melibatkan media massa dan sosial, serta tokoh masyarakat.

Pembiayaan program ini juga direncanakan dengan matang. Bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), BPJS Kesehatan akan menanggung biaya pemeriksaan. Sementara itu, pemerintah daerah akan menyediakan sumber pendanaan bagi masyarakat yang bukan peserta JKN, menjadikan layanan ini benar-benar gratis bagi semua warga negara.

Kampanye masif untuk mensukseskan PKG mencakup edukasi yang luas terhadap masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan. Pemerintah berfokus pada literasi digital untuk melawan informasi hoaks mengenai kesehatan, yang dapat menghalangi masyarakat untuk memanfaatkan layanan ini. Melalui testimoni dari individu yang telah merasakan manfaat PKG, pemerintah berharap dapat membangun kepercayaan publik dan memotivasi lebih banyak orang untuk berpartisipasi.

Program CKG adalah contoh nyata dari upaya pemerintah untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan produktif. Dengan memberikan akses kesehatan yang lebih baik, CKG tidak hanya mengajak kita untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri tetapi juga memperkuat sistem kesehatan nasional secara keseluruhan. Ini adalah langkah yang tepat untuk menuju Indonesia yang lebih sehat, di mana setiap individu merasa dihargai dan diperhatikan.

Mari kita manfaatkan kado dari negara ini agar kita dan keluarga kita terhindar dari penyakit, tetap sehat dan selalu produktif. (Edit Timker HDI)

Masyarakat Antusias Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas Cakung

Jakarta – Puskesmas Cakung, Jakarta Timur mulai menyelenggarakan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) (10/02) yang ditinjau pelaksanaannya oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie. Turut dalam peninjauan tersebut Staf Ahli Bidang Politik dan Kesehatan Global Kementerian Kesehatan, Bonanza P. Taihitu, dan Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Presiden, Tubagus Arie Rukmantara.

Dalam kunjungannya, Wamen Stella Christie melihat langsung pelaksanaan Program CGK dan berinteraksi dengan masyarakat yang hadir. Stella Christie menyampaikan bahwa program ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945. “Hari ini kita melihat langsung bagaimana program yang telah dijanjikan Bapak Presiden pada 8 November 2023 benar-benar terealisasi. Ini adalah kado dari negara untuk seluruh rakyat Indonesia,” ujar Stella.

Selain meninjau pelaksanaan CGK, Wamen Stella Christie juga melakukan cek kesehatan gratis di Puskesmas Cakung karena beliau berulang tahun pada tanggal 11 Januari 2025.

Sejak pukul 08:00 masyarakat yang sudah mendapatkan tiket melalui pendaftaran sebelumnya pada SATUSEHAT Mobile sudah berdatangan. Hari ini di Puskesmas Cakung sudah terdaftar sebanyak 28 masyarakat yang akan melakukan CGK mulai dari bayi baru lahir 24-72 jam, Balita dan pra sekolah, dewasa dan lansia,

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Puskesmas Cakung, Junaidah, menyatakan bahwa pihaknya siap melayani masyarakat dan mengajak warga untuk memanfaatkan fasilitas ini sebaik-baiknya. Program CKG ini menandai pergeseran paradigma dalam sistem kesehatan Indonesia, dari pendekatan kuratif menuju preventif. Pemerintah berharap melalui program ini, masyarakat Indonesia semakin sadar akan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan dapat mencegah penyakit sejak dini. (Penulis: Fadlie Abdika, Pusat Kebijakan Strategi dan Tata Kelola Kesehatan Global, Editor Timker Humas, Data dan Informasi)

Cek Kesehatan Gratis Dimulai Serentak

Tangerang Selatan – Pemerintah resmi memulai secara serentak program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi masyarakat pada Senin 10 Februari 2025. Program yang termasuk dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) kabinet Merah Putih ini dilaksanakan di seluruh Puskesmas di Indonesia.

Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Asnawi Abdullah mengajak masyarakat untuk tidak melewatkan kesempatan mengecek kesehatan pada saat ulang tahun sebagai upaya pencegahan dan pengendalian faktor risiko penyakit .

“Kementerian Kesehatan telah berkoordinasi dengan seluruh provinsi untuk bisa melaksanakan Cek Kesehatan Gratis serentak di seluruh Indonesia“ ujar Asnawi saat mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar meninjau CKG di Puskesmas Ciater, Tangerang Selatan. 

Asnawi menjelaskan, dalam memaksimalkan pelayanan, Kementerian Kesehatan telah menyiapkan anggaran yang cukup untuk pemeriksaan di berbagai rentang usia. Anggaran yang disediakan bervariasi sehingga disayangkan bagi masyarakat untuk tidak mengambil “kado” dari negara ini.

“Memang cukup bervariasi antara satu orang dengan orang yang lainnya namun diperkirakan rangenya itu sekitar 1,6 sampai 2 juta, jadi sayang sekali (jika) hadiah ini tidak dimanfaatkan oleh seluruh warga bangsa” imbuh Asnawi

Lebih lanjut, Asnawi juga menjelaskan, untuk memudahkan masyarakat memanfaatkan layanan, pemerintah memberikan kesempatan bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan CKG dimanapun meski sedang berdomisili di wilayah lain di luar alamat BPJS. 

“Memang lebih aman sesuai dengan domisili namun kalau ada satu dan lain hal bertugas ke daerah lain ingin memanfaatkan CKG diberikan kesempatan untuk memeriksakan tapi ketika ada tindak lanjut harus sesuai dengan alamat BPJS ” jelas Asnawi.

Hari pertama dimulainya CKG, Puskesmas Ciater melayani 12 orang yang telah mendaftar melalui aplikasi SATUSEHAT mobile dan yang mendaftar langsung. Puskesmas telah mempersiapkan sumber daya dengan maksimal agar pelayanan bisa efektif dan efisien sehingga tidak menimbulkan antrian lama.

Salah satu masyarakat penerima layanan, Diah, menyambut baik adanya program CKG ini sebagai upaya deteksi dini terhadap penyakit tidak menular dan berharap program ini bisa terus berlanjut agar masyarakat dapat hidup lebih sehat. 

“Program ini bagus ya, karena kita bisa mendeteksi penyakit tidak menular secara dini supaya pengobatan lebih cepat tanpa harus ke rumah sakit jadi sangat membantu sekali” ujar wanita yang mengetahui program ini melalui media sosial. (Penulis: Ahdiyat, Edit: Timker HDI)

Menuju Masa Depan Pelayanan Kesehatan dengan TeleOTIVA

Jakarta – Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) menyelenggarakan Bincang Asik Bersama Pakar (BINAR) yang ke-5 dengan tema  Inovasi Teknologi Kesehatan Telemedisin dan Otomatisasi Inspeksi Visual Asam Asetat (TeleOTIVA) (30/1). Kegiatan ini membahas tentang upaya eliminasi kanker serviks di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi berbasis kecerdasan artifisial.

Acara BINAR ini dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Asnawi Abdullah yang dalam sambutannya menyoroti pentingnya inovasi teknologi untuk mendukung deteksi dini dan efisiensi pelayanan kesehatan, dan juga menyampaikan bahwa kanker serviks masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Angka kejadian dan tingkat kematian akibat kanker serviks masih tinggi. 

“Hal ini disebabkan oleh rendahnya cakupan skrining dan deteksi dini, serta keterbatasan tenaga kesehatan terlatih dan fasilitas penunjang medis yang memadai di beberapa wilayah di Indonesia,” ujar Asnawi.

TeleOTIVA sendiri merupakan produk teknologi kesehatan yang dikembangkan untuk mendukung upaya eliminasi kanker serviks di Indonesia. Menurut Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Universitas Sriwijaya, Radiyati Umi Partan, pengembangan TeleOTIVA telah dilakukan sebelum pandemi COVID-19. Hal ini juga diperkuat dalam Paparan  oleh Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Sriwijaya, Siti Nurmaini, yang mengatakan bahwa TeleOTIVA telah dikembangkan sejak tahun 2019 hingga saat ini.

Pengembangan TeleOTIVA dilatarbelakangi oleh tingginya kejadian kanker di Indonesia. Data menunjukkan bahwa Indonesia menyumbang 7-8% dari seluruh kejadian kanker di dunia. Salah satu penyebab tingginya angka kejadian kanker di Indonesia adalah rendahnya cakupan skrining.

“Target skrining oleh WHO dan Pemerintah Indonesia sebesar 75%, namun sayangnya cakupan skrining hanya 7,3%,” ujar Siti Nurmaini.

Siti juga menambahkan bahwa data cakupan skrining 7,3% tersebut masih berdasarkan laporan yang diterima dan catatan dari lembaga kesehatan serta rumah sakit. Belum terdapat data resmi atau registry yang secara khusus mencatat data cakupan skrining.

Inovasi TeleOTIVA adalah  Teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) ini memanfaatkan model YOLO-Fastest dan YOLOv8-seg untuk mendeteksi dan menganalisis lesi prakanker serviks secara real-time. Penelitian ini bertujuan untuk mendukung tenaga kesehatan dalam menginterpretasikan hasil pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) dengan lebih cepat dan akurat, terutama di wilayah yang kekurangan tenaga ahli​​. 

Menurut Siti Nurmaini, sistem TeleOTIVA yang dikembangkan melalui berbagai tahap pengembangan dan pengujian, mulai dari validasi model hingga uji coba di rumah sakit jejaring di Provinsi Lampung, Bangka-Belitung, dan Jambi. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan kecepatan interpretasi hasil IVA, tetapi juga memanfaatkan fitur telemedisin untuk menghubungkan tenaga kesehatan primer dengan konsultan Onkologi di rumah sakit rujukan​.

Kegiatan BINAR  dilakukan secara hybrid dengan mengundang para pembahas dari berbagai instansi, seperti Direktorat Penyakit Tidak Menular, Kemenkes; Direktorat Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan, Kemenkes; Pusat Data dan Informasi Kemenkes; serta Indonesian Society of Gynecologic Oncology (INASGO).BINAR sendiri merupakan wadah untuk menyebarluaskan hasil riset untuk perbaikan program kebijakan melalui kajian kebijakan yang disandingkan dengan program kebijakan. Hasil dari kegiatan ini nantinya akan ditindaklanjuti oleh pusat kebijakan dan unit utama Kemenkes terkait dengan melaksanakan kajian kebijakan (analysis for policy) terkait inovasi baru ini. (Penulis Evi Suryani, Edit Timker Humas, data dan Informasi)

Kepemimpinan BKPK Beralih ke Prof. Asnawi Abdullah

Jakarta– Serah terima tugas dan jabatan Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan berlangsung khidmat di ruang Auditorium Siwabessy Kementerian Kesehatan. Syarifah Liza Munira resmi menyerahkan kepemimpinan BKPK ditandai dengan ditandatanganinya berita acara serah terima tugas kepada Prof. Asnawi Abdullah pada Kamis (9/1).

Sekretaris Jenderal Kemenkes Kunta Wibawa Dasa Nugraha menjadi saksi. Dalam sambutannya Sekretaris Jenderal menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Syarifah Liza Munira (Kepala BKPK periode Desember 2022 – Januari 2025) atas dedikasinya membangun BKPK, bermula Badan Penelitian berubah menjadi Badan Kebijakan dan sebagai think tank Kementerian Kesehatan, ini perubahan mindset yang luar biasa, dan penuh dengan tantangan.

Berdasarkan organisasi tata kerja, BKPK berdiri tahun 2022 dan Ibu Liza adalah Kepala BKPK pertama, terima kasih bu Liza atas dedikasinya selama tiga tahun ini, yang telah mengawangi BKPK, banyak capaian dan hal yang sudah dilakukan, ungkap Kunta.

Kunta Wibawa juga mengucapkan selamat datang kepada Prof. Asnawi Abdullah. “Kepada Bapak Asnawi selamat datang dan semoga bisa langsung berlari dan beradaptasi di BKPK, karena masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan untuk menggapai mimpi BKPK sebagai think thank Kementerian Kesehatan” tutur Kunta.

Melanjutkan sambutannya, kunta wibawa menekankan kembali pesan Menteri Kesehatan kepada Kepala BKPK yang baru saja dilantik, bahwa perubahan mendasar dari susunan organisasi tata kerja BKPK, goal yang pertama adalah menjadi think thank Kementerian Kesehatan sebagai perumus dan rekomendasi untuk Menteri Kesehatan mengambil kebijakan based on evidence, yang ada naskah akademiknya.

Goal yang kedua adalah sebagai policy clearing house, agar semua Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) dan aturan yang keluar dari Kemenkes itu sudah dikaji oleh BKPK, dan tidak terjadi tumpang tindih regulasi antar unit utama. Saat ini tugas yang harus dikerjakan adalah masih banyak PMK yang masih berlaku, jika sudah tidak berlaku maka harus dihapus.

Kemudian goal yang ketiga mengawal kajian implementasi kebijakan program Kemenkes, serta melakukan monitoring dan evaluasi agar dapat diketahui manfaat dan dampak program tersebut kepada masyarakat.
(Penulis Yuliana, Irwan Fazar)

Prof. Asnawi Abdullah Dilantik, dengan Kepemimpinan yang Baru BKPK Siap Melanjutkan Transformasi Kesehatan 

Jakarta – Prof Dr. Asnawi Abdullah resmi dilantik sebagai Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI). Pengambilan sumpah jabatan dan pelantikan dilakukan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Selasa (7/1) diruang Auditorium Siwabessy, Kementerian Kesehatan, Jakarta.

Pelantikan Asnawi Abdullah berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor:  216/TPA Tanggal 31 Desember 2024.

Selain melantik Kepala BKPK, Menkes Budi juga melantik  Kunta Wibawa Dasa Nugraha Sebagai Sekretaris Jenderal,  ⁠Murti Utami Sebagai Inspektur Jenderal, Maria Endang Sumiwi Sebagai Dirjen Kesehatan Primer Dan Komunitas, Azhar Jaya Sebagai Dirjen Kesehatan Lanjutan, Lucia Rizka Andalusia Sebagai Dirjen Farmasi Dan Alat Kesehatan,  Yuli Farianti Sebagai Dirjen Sumber Daya Manusia Kesehatan, Bayu Teja Muliawan Sebagai Staf Ahli Bidang Ekonomi Kesehatan,  Setiaji Sebagai Staf Ahli Bidang Teknologi Kesehatan, Sundoyo Sebagai Staf Ahli Bidang Hukum Kesehatan, Bonanza Perwira Sebagai Staf Ahli Bidang Politik Dan Globalisasi Kesehatan. 

Dalam sambutannya, Menteri Budi menekankan bahwa para pejabat yang baru dilantik mengemban amanah besar, mengingat cakupan pelayanan kesehatan di Indonesia yang sangat luas.

“Bapak dan Ibu mengurus 280 juta rakyat Indonesia, ribuan rumah sakit, puluhan ribu klinik dan puskesmas, serta ratusan ribu tenaga kesehatan. Ini adalah tanggung jawab yang besar, baik dari segi anggaran maupun dampaknya terhadap masyarakat,” ujar Menteri Kesehatan.

Pada akhir acara, Menteri Budi memberikan ucapan selamat kepada para pejabat yang dilantik. (Penulis Irwan Fazar/Timker HDI)

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe