Pemanfaatan Data SKI 2023 untuk Evaluasi Program

278

Jakarta– Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (BKPK Kemenkes) Syarifah Liza Munira mengatakan bahwa Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang dilaksanakan pada tahun 2023 menghasilkan data kesehatan yang sangat luas karena mengacu pada indikator pembangunan kesehatan nasional dan global seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Sustainable Development Goals (SDGs), Global Burden of Disease (GBD) serta Rencana Strategis Kementerian Kesehatan (Renstra Kemenkes).

“Data SKI 2023 tidak hanya data stunting dan status gizi balita, melainkan mulai dari akses fasilitas kesehatan, kesehatan jiwa, farmasi, penyakit menular dan tidak menular, hingga data biomedis,” ujar Liza saat memberikan presentasi di acara Diseminasi Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023 pada Rabu (12/6).

Dijelaskan Liza bahwa hasil SKI 2023 telah dipublikasikan pada website BKPK dalam 3 bentuk yaitu Laporan SKI Dalam Angka, Laporan Tematik Potret Indonesia Sehat serta Factsheet yang mengetengahkan 7 topik utama permasalahan kesehatan yang menjadi perhatian nasional maupun global.

7 topik utama tersebut adalah Tantangan Kepemilikan Jaminan Kesehatan dan Upaya Peningkatan Akses Kesehatan di Indonesia; Situasi dan Tantangan Kesehatan Ibu dan Neonatus di Indonesia; Stunting di Indonesia dan Faktor Determinan; Prevalensi, Dampak, serta Upaya Pengendalian Hipertensi dan Diabetes di Indonesia; Depresi pada Anak Muda di Indonesia; Problematika Kesehatan Gigi dan Mulut di Indonesia serta Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter.

Baca Juga  Masyarakat Bisa Datangi Puskesmas Untuk Pantau Kondisi Kesehatan

Pada kesempatan ini Liza menguraikan temuan-temuan atas 7 topik utama ke hadapan para undangan yang hadir baik luring dan daring yang berasal dari Kementerian/Lembaga lintas sektor, pemerintah daerah, serta mitra pembangunan kesehatan.

Pada topik Tantangan Kepemilikan Jaminan Kesehatan dan Upaya Peningkatan Akses Kesehatan di Indonesia, ditemukan bahwa lebih dari 25%  atau tepatnya 27,8% masyarakat Indonesia belum memiliki Jaminan Kesehatan, baik itu BPJS, asuransi swasta, maupun dari perusahaan. Sementara data untuk akses ke fasilitas kesehatan ditemukan bahwa 43% masyarakat lebih memilih berkunjung ke Puskesmas karena alasan kemudahan akses dan biaya yang terjangkau.

Topik Situasi dan Tantangan Kesehatan Ibu dan Neonatus di Indonesia membahas bahwa sebanyak 3 dari 10 (28%) ibu hamil mengalami anemia, dan 2 dari 10  (17%) memiliki risiko Kurang Energi Kronik (KEK). Kondisi tersebut dapat menyebabkan bayi berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur yang merupakan penyebab kematian tertinggi atau berkontribusi terhadap 63,5% kematian neonatal.

Baca Juga  UU Kesehatan Memberi Manfaat Bagi Provinsi Baru

Sementara topik Stunting di Indonesia dan Faktor Determinan membahas penurunan stunting dari tahun 2013 ke tahun 2023, namun dari tahun 2021 hingga 2023 terjadi kenaikan pada wasting. Selama ini fokus penanganan ditujukan pada anak stunting, sementara anak wasting juga memerlukan perhatian supaya tidak jatuh ke dalam kondisi stunting.

Selanjutnya topik Prevalensi, Dampak, serta Upaya Pengendalian Hipertensi dan Diabetes di Indonesia ditemukan bahwa sebesar 30,8% penduduk berusia 18 tahun keatas terdiagnosis hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah, namun hanya 8,6% penduduk pernah didiagnosis hipertensi sebelumnya. Sementara pada kasus Diabetes sebesar 11,7% penduduk diketahui memiliki kadar gula di atas normal.

Pada topik Depresi pada Anak Muda di Indonesia ditemukan bahwa Prevalensi depresi paling banyak didapatkan pada kelompok anak muda berusia 15-24 tahun dengan hanya 10,4% anak muda dengan depresi yang mencari pengobatan.

Topik Problematika Kesehatan Gigi dan Mulut di Indonesia ditemukan bahwa hampir semua kelompok umur (balita, dewasa dan lansia) mempunyai indeks kerusakan gigi tinggi atau sangat tinggi.

Baca Juga  Cek Kesehatan Secara Rutin Untuk Deteksi Dini Penyakit

Sementara itu pada topik Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter ditemukan bahwa lebih dari 20% masyarakat pernah mengonsumsi antibiotik dalam kurun waktu 1 tahun terakhir dan sekitar 41% diantaranya tidak menggunakan resep dokter.

Liza mengharapkan data-data tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi program dan capaian terhadap indikator-indikator penting dalam pembangunan kesehatan selain sebagai data dasar dalam penyusunan RPJMN dan RPJMD.

“Data yang paling baik adalah data yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Karena itu kami mengundang para stakeholders untuk menggunakan data SKI sebagai bahan perencanaan, evaluasi, maupun kepentingan ilmiah,” ujar Liza.

Lebih lanjut Liza mengungkapkan bahwa dalam rangka memaksimalkan pemanfaatan data SKI BKPK juga menyelenggarakan kompetisi penulisan rekomendasi kebijakan dengan menggunakan data SKI 2023 sebagai sumber data utama. Kompetisi ini terbuka untuk masyarakat umum.

“Kami mengharap kompetisi ini memunculkan landasan rekomendasi kebijakan yang orisinil dan inovatif untuk mempercepat pencapaian target pembangunan kesehatan di Indonesia,” tutup Liza. (Penulis Kurniatun/Edit Timker HDI)