
Jakarta – Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan menggelar kegiatan Koordinasi Pembinaan Wilayah bertajuk “Integrasi ASIK ke SIMPUS: Solusi Single Entry CKG” secara luring dan daring pada Kamis (8/10). Langkah strategis ini diambil guna menyederhanakan sistem informasi pada pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah memasuki tahun kedua.
Sekretaris BKPK, Etik Retno Wiyati, saat menyampaikan laporan panitia menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan daerah untuk mengatasi permasalahan pencatatan data.
“Pada kesempatan ini, kami mengundang seluruh provinsi, seluruh kabupaten/kota beserta jajarannya, seluruh korwil, dan juga seluruh narahubung Kementerian Kesehatan untuk melakukan koordinasi bagaimana mengatasi permasalahan sistem informasi, terutama single entry dalam program CKG,” ujarnya.
Dalam arahan sekaigus membuka acara, Kepala BKPK, Asnawi Abdullah, mengusung semangat “Catat Sekali, Manfaatkan Berkali-kali”. Ia menekankan bahwa integrasi ASIK ke SIMPUS merupakan solusi single entry agar tenaga kesehatan tidak terbebani pencatatan ganda, sekaligus menghasilkan sumber data yang akurat, lengkap, dan konsisten.
“Untuk itu saya memintakan tiga hal. Pertama, satu standar data. Pastikan integrasi berjalan konsisten di seluruh daerah tanpa perbedaan format dan tanpa ada duplikasi. Kedua, siapkan dukungannya, jaringan perangkat, pelatihan-pelatihan petugas harus cukup, harus memadai agar sistem dimanfaatkan secara optimal. Yang ketiga, kita kawal melalui pembinaan wilayah. Kita samakan persepsi, kita pantau kendala bila ada di lapangan dan kita selesaikan bersama-sama dengan cepat,” jelas Asnawi.
Menindaklanjuti permasalahan di lapangan, Sigit Wibowo, Ketua Tim Kerja Kesehatan Primer, Komunikasi, dan Penanggulangan Penyakit, Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemenkes memaparkan strategi single entry melalui SIMPUS guna memangkas beban administratif tenaga kesehatan. Sigit menjelaskan strategi simplifikasi pencatatan melalui dua pendekatan utama yaitu konsep robotik/scraping untuk pelayanan umum di Puskesmas dan penguatan sistem ASIK untuk pelayanan sekolah. Pusdatin juga sedang menyusun standar input sebagai panduan pengembang SIMPUS.
Dalam paparannya, Sigit menekankan pentingnya standarisasi data agar satu sumber data yang sama dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan pelaporan, sehingga dapat menekan beban administrasi tenaga kesehatan dengan menghindari duplikasi input data.
“Satu data yang sama harus bisa saling dimanfaatkan bersama. Jadi artinya, ketika ada satu inputan data, itu harus bisa digunakan di laporan lain atau di indikator lain supaya tidak lagi duplicate entry,” paparnya.
Konsep dan strategi digitalisasi dari pusat ini selaras dengan penerapan di tingkat daerah. Pengalaman sukses penerapan single entry disajikan oleh Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kabupaten Magetan, Renny Kurniawati. Saat ini, sebanyak 22 Puskesmas di Kabupaten Magetan telah 100% menerapkan sistem terintegrasi termasuk konektivitas SIMPUS dengan alat USG dan Satu Sehat RME sehingga terbukti meningkatkan efisiensi kerja nakes dan meminimalkan kesalahan input data.
Renny menyampaikan apresiasi terhadap penerapan sistem single entry dalam program CKG. Beliau menegaskan bahwa inovasi ini merupakan solusi yang sangat dinantikan oleh tenaga kesehatan untuk meringankan beban administrasi yang selama ini menuntut pencatatan data berulang kali.
“Single entry data ini seperti halnya salah satu doa dari para nakes yang ada di lapangan yang terkabul. Jadi sinkronisasi data ini merupakan harapan dari kami sejak diluncurkannya program CKG ini yang mana memang sangat menyita waktu kita. Selain memberi pelayanan, kita juga harus entry data berkali-kali,” ujar Renny.
Melalui integrasi sistem informasi ini, pemerintah berharap tenaga kesehatan di garis terdepan dapat kembali fokus memberikan pelayanan medis yang optimal tanpa terbebani tugas administratif ganda. Data yang akurat, konsisten, dan terintegrasi secara real-time ini pada akhirnya menjadi pijakan kokoh bagi lahirnya kebijakan kesehatan yang tepat sasaran, serta membawa dampak nyata bagi peningkatan derajat kesehatan seluruh masyarakat Indonesia.
Sebagai tindak lanjut, BKPK akan terus memperkuat koordinasi dan pembinaan wilayah bersama pemerintah daerah serta unit terkait di Kementerian Kesehatan untuk mengawal implementasi integrasi ASIK ke SIMPUS. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat penerapan sistem single entry secara konsisten di seluruh daerah, sehingga pencatatan data CKG menjadi lebih efektif, akurat, dan terintegrasi. Dengan semangat “Catat Sekali, Manfaatkan Berkali-kali”, tenaga kesehatan diharapkan dapat lebih fokus memberikan pelayanan kepada masyarakat, sementara data yang berkualitas menjadi dasar bagi perumusan kebijakan kesehatan yang tepat sasaran. (Penulis: Nisa Fitriyani, Editor: Timker HDI dan Timker MIK)








