
Berdasarkan data media monitoring Kemenkes RI periode 11-18 September 2026, terlihat adanya polarisasi sentimen publik antara platform pemberitaan. Media massa cenderung memberikan sentimen positif sebesar 56% yang mendukung capaian struktural kementerian. Sebaliknya, media sosial menunjukkan sikap yang jauh lebih kritis dengan sentimen negatif mencapai 36,7%. Lonjakan sentimen negatif ini didorong kuat oleh isu kronis terkait dugaan keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mencatat 821 unit isu dan muncul di setiap laporan harian.
Tinjauan terhadap 6 Pilar Transformasi Kesehatan menunjukkan dinamika yang tidak merata dalam komunikasi publik. Di satu sisi, Program Cek Kesehatan Gratis (Layanan Primer) sukses menjadi aset komunikasi terkuat, namun di sisi lain, isu kewenangan program MBG (Ketahanan Kesehatan) justru meledak menjadi perdebatan dengan volume tertinggi mencapai 1.774 unit. Analisis juga menyoroti “ruang kosong narasi digital” pada pilar Teknologi, yang mengindikasikan bahwa Kemenkes melewatkan peluang strategis untuk menggunakan capaian seperti SATUSEHAT guna mengimbangi narasi-narasi negatif di pilar lain.
Pemetaan sentimen mengidentifikasi risiko utama (red flags) yang berpusat pada kekhawatiran berulangnya kasus keracunan MBG serta kritik terhadap tata kelola dan potensi konflik kepentingan Kemenkes sebagai regulator sekaligus operator Rumah Sakit. Kendati demikian, Kemenkes memiliki modal pendorong positif yang signifikan untuk meredam risiko tersebut, terutama dari apresiasi publik terhadap capaian JKN yang telah mencakup 99,6% populasi, serta respons sigap layanan kegawatdaruratan (PSC 119) dalam menangani berbagai bencana alam.
Untuk mengatasi tantangan ini, analisis tersebut merekomendasikan tiga langkah strategis komunikasi. Pertama, Kemenkes harus menerapkan manajemen krisis ketat maksimal 3×24 jam untuk merilis investigasi kasus keracunan guna memutus siklus penyebaran isu. Kedua, kementerian perlu menyusun narasi proaktif lintas lembaga untuk mempertegas batas kewenangan Kemenkes dan Badan Gizi Nasional. Terakhir, diperlukan amplifikasi kontra-narasi secara masif dengan mengangkat isu-isu keberhasilan seperti eliminasi TB dan kemajuan digitalisasi guna mendominasi kembali wacana publik.








