Cegah Stunting, Kemenkes Fokuskan Pada 11 Program Intervensi

21782

Jakarta- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memfokuskan 11 program intervensi spesifik untuk menurunkan stunting. Kesebelas program tersebut diarahkan pada 2 fase pertumbuhan. Yaitu, fase ibu hamil atau sebelum melahirkan dan fase sesudah melahirkan yang utamanya pada bayi usia 0-24 bulan.

“Kita mengejar kedua fase ini, karena fase ini yang determinan terhadap stunting paling tinggi. Penyebab tingginya stunting ada di fase-fase tersebut,” ucap Menkes Budi saat Sosialisasi Kebijakan Intervensi Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2023, Jumat (3/2) secara virtual.

Menkes menjelaskan dari 11 program intervensi, salah satunya adalah program pendidikan, edukasi, dan promosi yang mencakup kedua fase pertumbuhan tersebut. Sementara 10 intervensi lainnya fokus pada masing-masing fase kehidupan yang paling tinggi determinannya terhadap stunting.

Menkes juga menerangkan 2 intervensi pada kelompok pertama yaitu fase sebelum bayi lahir. Pertama, intervensi difokuskan pada remaja putri di kelas 7 dan kelas 10. Intervensi yang dilakukan dengan memberikan tablet tambah darah (TTD). Menurutnya remaja putri kalau bisa sebelum hamil jangan anemia.

Menkes menambahkan bahwa setiap intervensi ada pengukurannya, sehingga remaja putri akan diukur hemoglobin. “Jadi selain konsumsi tablet tambah darah, remaja putri di kelas 7-10 ada pengukurannya, di ukur dengan HB-nya,” ucapnya.

Baca Juga  Ujicoba Survei Kesehatan Indonesia 2023

Program Aksi Bergizi ini dilakukan bersama Puskesmas yang akan rutin mengukur darah remaja putri.  Menkes mengatakan bila hasilnya di bawah 12, artinya putri tersebut anemia dan harus minum tablet tambah darah.

Lebih lanjut, Menkes menjelaskan program intervensi pada kelompok kedua yaitu ibu hamil. Pada kelompok ini, ibu hamil akan diberikan tablet tambah darah dan memastikan gizi cukup. Cara mengukurnya dengan pelayanan antenatal care (ANC) yang tujuannya untuk pemeriksaan selama kehamilan atau ANC. ANC ini dinaikkan menjadi 6 kali. Selain itu ada pemeriksaan USG untuk melihat pertumbuhan janin normal atau tidak.  “Pertumbuhan janin kalau ngga normal, gizinya kurang, kita perlu intervensi,” jelasnya.

Pada kelompok ketiga yaitu pada saat bayi sudah lahir. intervensi akan difokuskan pada bayi usia 0-24 bulan. Menurutnya karena pada bayi usia tersebut yang determinan stunting paling tinggi. Programnya adalah imunisasi, ASI eksklusif, dan bila bergejala diberikan protein hewani.

Baca Juga  Sebanyak 1.659 Pegawai BRIN Sudah di Vaksin Booster Covid-19

Program imunisasi diutamakan rotavirus dan pneumokokus, karena infeksi yang paling banyak pada bayi itu pneumonia atau pernafasan dan diare. “Jadi imunisasi itu penting untuk bayi-bayi,” tegas Menkes.

Menkes menyampaikan agar memastikan bayi yang baru lahir mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan. Dan program ketiga, bayi yang diidentifikasi beresiko stunting agar segera dicegah dengan memberikan protein hewani. Sementara bila sudah stunting harus dikirim ke rumah sakit daerah dan ditangani oleh dokter anak. itu

Menkes menganalogikan stunting itu seperti kanker yang ada stadiumnya. Bila sudah terjadi  stunting, hal itu sudah telat dan jika kanker sudah berada di stadium 4. Kemungkinan untuk sembuhnya susah sekali. Rata-rata kemungkinan hanya 5% yang dapat sembuh. Namun, kalau benar-benar dedikasi untuk mengurusi dan melakukan perawatan di rumah sakit, paling tinggi 20% yang dapat sembuh.

“Jadi kalo ada bayi stunting ada 4,4 juta dengan kerja super keras hanya 20% saja yang sembuh yang lainnya sudah pasti stunting, jadi sudah pasti telat. Yang harus dilakukan adalah mencegah jangan sampai stunting,” kata Budi.

Baca Juga  Kemenkes RI dan Perwakilan Zimbabwe Bahas MoU Bidang Kesehatan

Menkes mengatakan sebelum masuk stunting akan melewati 4 stadium. Stadium 1 yaitu weight faltering atau berat badan tidak naik. Stadium 2 yaitu underweight atau berat badan turun. Stadium tiga mall nutrition atau gizi kurang, dan stadium 4 gizi buruk. “Jangan biarkan anak-anak kita melewati stadium weight faltering dan underweight karena kalau sudah stunting akan susah sembuh,” ucap Budi.

Menkes menyarankan kepada para Kepala Dinas Kesehatan agar fokus pada underweight.  Ketika balita ditimbang tidak naik, langsung berikan protein hewani. Berdasarkan pengalaman pada program penurunan stunting, Menkes mengatakan hanya dua minggu balita yang diintervensi protein hewani, balita tersebut bisa kembali ke semula.

“Berbeda kalau dia sudah masuk ke stunting. Mahal, lama, dan harus masuk rumah sakit. Kalau masih masuk tahap underweight dikasih saja protein hewani, jangan di kasih yang lain. Kasih telur, ikan, ayam, dan susu dia bisa kembali semula,” pesan Menkes.

(Penulis Faza Wulandari/Editor Fachrudin Ali)