Cek Kesehatan Gratis Jangkau 25 Juta Siswa, Pemerintah Tekankan Deteksi Dini dan Tindak Lanjut

16

Jakarta –  Sebanyak 308 siswa kelas X, XI, dan XII SMA IPEKA Sunter II Jakarta Utara mengikuti kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan pada 10 Februari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peninjauan satu tahun pelaksanaan program CKG yang dilakukan di berbagai lokasi.

Pelaksanaan CKG di Sekolah ini ditinjau langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronika Tan. Kunjungan tersebut didampingi oleh Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Asnawi Abdullah serta turut dihadiri Dara Adinda Kusuma Nasution  MSc, Tenaga Ahli Utama dari Kantor Komunikasi Pemerintah.

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari prioritas Presiden untuk menghadirkan pemeriksaan kesehatan gratis bagi anak sekolah di seluruh Indonesia, dengan fokus utama pada pelacakan dan deteksi dini kondisi kesehatan siswa. “Alhamdulillah tadi semuanya berjalan dengan baik, berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang menjadi program dari Kementerian Kesehatan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa siswa yang membutuhkan penanganan lanjutan akan dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat. Mendikdasmen berharap program ini tidak hanya membantu memetakan kondisi kesehatan anak, tetapi juga membangun kesadaran akan budaya hidup sehat, mulai dari pola makan hingga aktivitas sehari-hari.

Baca Juga  BKPK Kemenkes Libatkan Partisipasi Publik untuk RUU Kesehatan

Sementara itu, Wamen PPPA Veronica Tan menilai pelaksanaan cek kesehatan bagi anak menunjukkan respons yang semakin positif, meski pada awalnya masih ada rasa khawatir di kalangan peserta.

“Untuk cek kesehatan mereka, ternyata ada yang takut, ada yang bingung, tapi semuanya hadir. Jadi hampir 90% telah disosialisasikan,” ujar Veronica.

Kepala BKPK Kemenkes Prof. Asnawi Abdullah menyampaikan bahwa satu tahun pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi momentum evaluasi sekaligus penguatan tindak lanjut program. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, ditemukan sejumlah persoalan kesehatan pada kelompok anak sekolah. “Pertama masalah yang paling banyak adalah gigi. Kemudian yang kita temukan juga hipertensi juga sudah mulai di kalangan anak-anak,” katanya.

Ia menegaskan bahwa mulai tahun ini pemerintah memperkuat aspek tindak lanjut, terutama pada pengendalian hipertensi. “Kalau hipertensi bagaimana pengendalian tekanan darah apa yang harus kita lakukan. Nah ini yang kita sekarang ini lagi kita giatkan,” tuturnya. Pada tahun ini, pemerintah menargetkan peningkatan signifikan jumlah peserta. “Kita tahun ini menargetkan 130 juta. Tahun yang lalu kita berhasil 70 juta,” ujar Prof Asnawai. Namun, target kuantitas tersebut disertai penajaman kualitas, khususnya pada tindak lanjut hipertensi, gula darah, dan berat badan.

Baca Juga  The 2nd HMM Sepakati 6 Aksi Kunci Perkuat Arsitektur Kesehatan Global

Menurut Asnawi, pengendalian tiga faktor tersebut berpotensi menekan risiko penyakit berat di masa depan. Ia menyinggung besarnya beban pembiayaan kesehatan nasional. “Kita tahu beban BPJS yang paling besar adalah untuk penyakit-penyakit kardiovaskular. Mudah-mudahan dengan CKG ini kita bisa mengurangi kasus-kasus itu di masa akan datang,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa CKG merupakan bagian dari gerakan kesadaran bersama. Program ini, kata dia, menjadi pintu masuk untuk membangun pola hidup sehat melalui pengaturan pola makan, pemenuhan gizi, serta komunikasi yang baik dengan anak terkait kebiasaan sehari-hari.

“Awareness inilah yang seharusnya menjadi gerakan kita semua,” tegasnya, seraya mencontohkan pentingnya pengendalian konsumsi gula dan garam dalam keseharian sebagai standar perilaku hidup sehat.

Dalam kesempatan tersebut, siswa SMA IPEKA Sunter II, Natan Imelwinoto, mengaku mendapatkan manfaat nyata setelah mengikuti pemeriksaan. “Pada pengecekan pertama saya mendapatkan beberapa masukan. Salah satunya adalah kondisi mata saya yang menganjurkan saya untuk segera langsung ke dokter untuk pengecekan lebih lanjut,” katanya.

Baca Juga  Optimalisasi Pembiayaan JKN Menuju FKTP Berkualitas

Pengalaman serupa disampaikan siswa SMA Kristen IPEKA Sunter II lainnya Kalissa Endarto. “Saya akhirnya tahu bahwa mata saya itu ada sedikit kekurangan dalam melihat jarak jauh dan dianjurkan untuk memakan buah-buahan, sayur-sayuran dan juga semakin rajin untuk berolahraga,” ujarnya. Ia menilai program tersebut sangat bermanfaat sekaligus mengingatkan pelajar untuk mulai hidup sehat sejak dini.

Program Cek Kesehatan Gratis Sekolah diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan pemeriksaan semata, tetapi juga menjadi titik awal perubahan perilaku hidup sehat bagi generasi muda. Dengan deteksi dini dan tindak lanjut yang tepat, pemerintah optimistis beban penyakit di masa depan dapat ditekan. Sinergi antara sektor pendidikan, kesehatan, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci agar setiap anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan siap menyongsong masa depan. (Penulis Fachrudin Ali, Editor Timker HDI)